"PLN NTB justru lebih fokus pada program penghematan karena hampir semua pelanggan kategori rumah tangga dengan daya di bawah 6.600 KVA," kata Deputi Manager Komunikasi PT PLN Wilayah NTB, Lalu Mawardi, di Mataram, Rabu.
Ia menyebut, jumlah pelanggan PLN NTB saat ini sebanyak 345.372 rumah tangga dan perusahaan. Sebagian besar atau sekitar 95% pelanggan menggunakan listrik untuk kebutuhan konsumtif (kategori R1 dan R2, hanya lima persen pelanggan industri (kategori R3).
Menurut dia, PLN NTB juga akan memberlakukan tarif non-subsidi yang merupakan modifikasi program insentif dan disinsentif atas masukan Komisi VII DPR dan masyarakat jika tiba saatnya.
Sementara ini pelanggan listrik kategori R3 di wilayah NTB hanya di kalangan usaha perhotelan sehingga jumlahnya tidak banyak. Tambahan pendapatan PLN jika terjadi pemborosan pemakaian listrik itu pun tidak banyak berpengaruh karena tingkat hunian hotel berbintang berfluktuasi.
"Sosialisasi dan uji coba penerapan tarif mahal pada penagihan rekening di bulan Mei baru di lima wilayah yaitu DKI Jakarta, Riau, Jawa Barat, Kalimantan Timur dan Bangka Belitung. NTB dan provinsi lain tahap berikut karena mungkin jumlah pelanggan 6.600 KVA ke atas sedikit," katanya.
Mawardi mengatakan, PLN Wilayah NTB berupaya mensosialisasikan program insentif (pengurangan biaya rekening) dan disinsentif (tambahan biaya rekening) secara berkelanjutan agar semua pelanggan memahami maksud dan tujuan penghematan pemakaian energi listrik itu.
Pelanggan listrik dengan daya mampu 450 KVA dan 900 KVA dikenakan tarif disinsentif 0,3 kali lebih mahal. Formulanya, 0,3 dikalikan selisih Kilo Watt Hour (KWH) pemakaian dengan KWH rata-rata kemudian dikalikan lagi dengan harga energi pada sesuai golongan tarif.
Bagi pelanggan dengan daya mampu 1.300 KVA dikenakan tarif disinsentif 0,35 kali lebih mahal, sementara pelanggan 2.200 KVA tarifnya 0,8 kali dan pelanggan di atas 2.200 KVA tarifnya 1,6 kali.
"Kami libatkan berbagai media massa dalam sosialisasi program insentif-disinsentif sejak awal Maret. Gerakan hemat listrik itu merupakan program prioritas," katanya. (*/lin)