Menurut cucu almarhum, Tessa, Endang, yang lahir di Kebumen pada 4 Oktober 1916, wafat setelah sempat dirawat di RS Pluit selama tiga pekan.
"Opa menderita komplikasi berbagai penyakit dan organ tubuhnya pun sudah lemah karena usia," jelas Tessa di Jakarta, Rabu.
Ia mengenang sang Opa sebagai sosok yang sangat tekun dan fokus terhadap pekerjaannya sebagai seorang pelatih sepak bola.
"Opa sangat mencintai sepak bola. Bahkan, tadi malam, kami masih `ngobrol` soal pertandingan Liga Champion (Eropa)," ungkapnya.
"Opa masih sempat `ngintip-ngintip` nonton pertandingan tetapi pada pukul 04.00 kondisinya menurun hingga akhirnya meninggal dunia," imbuh Tessa.
Jenasah Endang disemayamkan di Rumah Duka RS Dharmais, ruang D-F, dan akan dikremasi di Oasis pada Minggu, 6 April.
Almarhum meninggalkan empat orang anak, 12 cucu dan 7 cicit, sementara sang isteri Kartika Sulindro telah lebih dulu menghadap Yang Maha Kuasa tahun lalu.
Karir kepelatihan Endang diawali pada 1951 di klub Union Makes Strength (UMS) Jakarta setelah gantung sepatu. Banyak nama besar dalam dunia sepak bola Indonesia yang pernah diasuhnya, termasuk pelatih timnas senior Indonesia saat ini Benny Dollo. (*/rsd)