Padahal sebagian besar dari ratusan hektar sawah terendam tersebut sudah ditanami padi dengan umur berkisar 20 hari hingga 30 hari pada bulan Februari 2008 lalu. Selain itu banyak pohon tebu juga rusak akibat banjir .
"Jika tidak terendam, maka bulan Maret lalu saya sudah bisa memanen padi tersebut," kata petani dari Desa Gowong, Kecamatan Sukolilo, Sutiyo (44), di Pati, Kamis.
Diperkirakan, lahan sawah sekitar satu hektare terendam tersebut mampu menghasilkan gabah sebanyak tujuh ton atau sekitar Rp7 juta .
Rencananya, penghasilan tersebut selain untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya juga dipakai untuk modal menanam padi kembali dan membiayai sekolah dua anaknya.
Setiap satu hektare lahan, katanya, membutuhkan biaya sekitar Rp2,5 juta.
Mengingat kebutuhan hidup keluarganya juga tidak bisa ditunda-tunda, maka pihaknya terpaksa mencari pekerjaan lain, seperti buruh memotong padi.
"Hasilnya cukup lumayan, karena dalam sehari, saya mendapatkan upah Rp40 ribu," katanya.
Hanya saja, pekerjaan tersebut tidak setiap hari ada, sehingga pihaknya terpaksa menjual satu dari tiga ekor kerbaunya.
"Lumayan uang penjualan sebesar Rp5 juta bisa dipakai untuk tambahan biaya hidup dan sekolah dua orang anak," katanya.
Kondisi serupa juga dialami Nursaid (49), petani dari Desa Gadudero, yang sawahnya seluas dua hektare yang sudah ditanami padi dan siap panen ikut terendam sejak akhir tahun 2007 lalu.
Beruntung dia masih memiliki dua hektar sawah di lokasi yang jauh dari daerah rawan genangan tersebut, sehingga dia tidak perlu lagi mencari pekerjaan lain seperti yang dialami Sutiyo.
Hanya saja, kerugian yang dialaminya cukup besar berkisar Rp16 juta lebih, mengingat hasil panen di sawah seluas dua hektar yang tidak ikut terendam air sekitar Rp16 juta.
Meskipun ratusan hektar sawah petani di Desa Gadudero tersebut berada di dataran rendah, peristiwa banjir tersebut baru sekali ini terjadi.
"Sebelumnya memang pernah mengalami kasus serupa terendam air oleh luapan Sungai Jeratun, namun cepat surut," katanya.
Menurut dia, kedangkalan sungai tersebut sudah semakin tinggi, sehingga ketika debit air dari Kudus meningkat, dengan cepat air sungai tersebut meluap dan menggenangi ratusan hektare sawah di sekitarnya.
Ia berharap, pihak terkait segera melakukan normalisasi sungai tersebut, mengingat Pemerintah Kabupaten Kudus sudah lebih dulu melakukan normalisasi sungai.
Kerugian akibat meluapnya air Sungai Jeratun tersebut tidak hanya dialami petani padi, namun petani tebu juga mengalami hal serupa di desa tersebut. Bahkan, puluhan hektar tanaman tebu mulai membusuk dan mengeluarkan bau tidak sedap.
Sebagian tanaman tebu tersebut, mulai ditebang oleh pemiliknya, karena dinilai tidak akan menghasilkan apa-apa. (*/cax)