"Tanpa alokasi dana dari APBD, tim memang mengalami kesulitan pendanaan," kata Ketua Harian Persiku, Wiyono, di Kudus, Jumat.
Untuk itu, pihaknya beserta pengurus klub lain mengagendakan pertemuan dengan Mendagri. "Bila tidak ada perubahan hal itu akan dilakukan 10 April mendatang," katanya.
Ditambahkan Wiyono, pihaknya juga baru saja mengadakan pertemuan dengan klub-klub calon peserta Divisi utama di Jakarta, awal pekan ini. Banyak usulan yang diajukan pada pertemuan yang diadakan oleh PSSI itu.
"Misalnya, kompetisi dibagi tiga grup. Sebelumnya PSSI memberlakukan sistem dua grup. Untuk pelaksanaan kompetisinya sendiri dimulai 21 Juli 2008. Sedangkan pendaftaran klub mulai 15 April," ujarnya.
Menurut dia, usulan pembagian kompetisi menjadi tiga grup tentu menguntungkan klub, karena beban keuangan tim menjadi berkurang.
Barisan pendukung Persiku sendiri berharap tim kebanggaannya itu dapat tetap mengikuti kompetisi Divisi Utama tahun ini. Apalagi, kondisi yang dialami persiku juga terjadi pada beberapa klub lain.
Bahkan, nasib tim Kota Kudus itu masih jauh beruntung, dibanding daerah lain, yang tidak mendapat bantuan dari perusahaan seperti halnya Persiku.
"Persiku mungkin lebih beruntung," kata Ketua Supporter Basokka, Bambang S.
Hanya saja, dana yang diperoleh dari swasta dipastikan sangat terbatas. Paling tidak, dibandingkan dengan modal kompetisi sebelumnya yang mendapat dari APBD dan swasta, dana tim musim ini tentu lebih sedikit.
"Target riil, tentunya hanya dapat terus mengikuti kompetisi," katanya.
Hal senada juga dikemukakan oleh Ketua Suporter Macan Muria, Solekan, bahwa pihaknya sangat kecewa dengan keputusan pengedropan anggaran itu. Pihaknya meminta petinggi Pemkab agar dapat memperjuangkan nasib tim.
"Apa perlu kita ramai-ramai ke Mendagri," katanya.
Menurut pengamatannya, Persiku saat ini belum sepenuhnya mampu meninggalkan kucuran dana dari APBD. "Meski mendapatkan dana dari swasta, itu masih belum cukup," katanya.
Ia berharap, Persiku tetap mengikuti kompetisi tahun ini. (*/rsd)