< >

Dampak Perubahan Iklim Pada Kesehatan Mesti Ditangani Lintas Sektor

Senin, 07 April 2008 16:06
Kapanlagi.com - Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan manusia mesti ditangani secara lintas sektor dengan melibatkan semua departemen.

"Kita sadar bahwa masalah kesehatan akibat perubahan iklim adalah masalah hulu, sedangkan hilirnya ada di sektor dan departemen lain. Karena itu perlu kesungguhan dari semua untuk mengendalikannya," katanya dalam sambutan tertulis yang dibacakan Direktur Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan I Nyoman Kandun pada seminar "Protecting Health from Climate Change" di Jakarta, Senin.

Selain itu, ia melanjutkan, organisasi internasional, lembaga donor dan masyarakat juga mesti terlibat dalam penyusunan agenda untuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat perubahan iklim.

Dalam sambutannya, Siti Fadilah juga berharap seluruh komponen masyarakat memahami dan peduli terhadap dampak perubahan iklim terhadap kesehatan serta mengambil peran untuk mengendalikan dampak perubahan iklim pada kesehatan manusia.

Lebih lanjut ia menjelaskan kendati iklim tidak bisa dikendalikan, namun dampak perubahannya terhadap kehidupan manusia, terutama kesehatan, bisa ditekan dengan menjalankan strategi antisipasi yang komprehensif.

"Upaya antisipasi yang dapat kita lakukan adalah bagaimana melakukan pengurangan dampak atau mitigasi dan adaptasi baik pada tingkatan manusia sendiri maupun lingkungan yang langsung bersentuhan dengan manusia," katanya.

Sementara Kandun, yang juga menyampaikan materi dalam seminar yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Kesehatan Sedunia ke-60 itu menjelaskan, Departemen Kesehatan berupaya mengurangi dampak perubahan iklim melalui sosialisasi penerapan perilaku hidup sehat serta peningkatan surveilans penyakit, akses terhadap sarana pelayanan kesehatan dan akses terhadap air bersih.

Tahun 2007, ia menjelaskan, pihaknya telah menjalankan program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di 5.000 desa/kelurahan di tanah air dan tahun ini akan melakukannya di 5.000 desa/kelurahan di 110 kabupaten/kota yang berada di 15 provinsi di Indonesia.

"Kami juga punya strategi komunikasi, informasi dan edukasi untuk membudayakan perilaku hidup sehat dalam masyarakat karena bila seluruh masyarakat berperilaku hidup sehat, semua masalah kesehatan akan bisa ditangkal, termasuk yang terjadi karena perubahan iklim," jelasnya.

Sharad Adhikari dari Kantor Perwakilan WHO Indonesia pun berpendapat bahwa dalam hal ini aksi masyarakat merupakan faktor terpenting.

"Justru aksi di tingkat masyarakatlah yang dapat secara nyata mengurangi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan. Untuk itu sebelumnya harus ada yang memberi contoh kepada mereka tentang aksi seperti apa yang diperlukan," katanya.

Perubahan Iklim

Perubahan iklim telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan beban sektor kesehatan global.

Studi komprehensif mengenai dampak perubahan iklim terhadap resiko penyakit yang dilakukan WHO menunjukkan bahwa perubahan iklim yang terjadi sejak pertengahan 1970-an diperkirakan telah menyebabkan 150 ribu kematian per tahun akibat peningkatan kejadian penyakit.

Manusia terdampak langsung perubahan iklim melalui perubahan pola cuaca dan secara tidak langsung antara lain melalui perubahan kondisi air, udara, ekosistem dan kualitas pangan.

Perubahan suhu, kelembaban dan kecepatan angin, ia mencontohkan, berhubungan dengan kejadian kesakitan serta peningkatan populasi vektor sejumlah penyakit.

"Perubahan iklim juga menyebabkan terjadinya bencana banjir, tsunami, badai, longsor dan sebagainya yang akan mengakibatkan kelangkaan air bersih dan pangan, yang membuat manusia rentan terserang penyakit," kata Menteri Kesehatan.

Selain itu, ia melanjutkan, bencana yang terjadi akibat perubahan iklim seperti banjir juga meningkatkan penyebaran penyakit yang menular melalui air seperti diare, kolera dan leptospirosis.

Guna menekan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan, WHO merekomendasikan anggotanya untuk menyusun strategi adaptasi terpadu yang antara lain meliputi peningkatan kapasitas surveilans, penguatan infrastruktur kesehatan, penguatan sistem kesehatan masyarakat serta pembuatan sistem peringatan dini yang dapat mendukung respon cepat terhadap masalah kesehatan. (*/cax)