Direktur Afrika, Dirjen Asia Pasifik dan Afrika, Deplu, Sudirman Haseng, di Pangkalpinang, Senin, usai kegiatan temu dan dialog duta besar Afrika dengan Pemprov Bangka Belitung, mengatakan, ekspor dari Indonesia ke-53 negara benua Afrika didominasi CPO dan turunannya, selanjutnya diikuti, produk tekstil, furniture, elektronik dan alat listrik.
Ia mengatakan, rata-rata setiap tahun perdagangan Indonesia ke negara Afrika meningkat 3-4 %, namun dari sisi total ekspor dunia baru berkisar 2-3 %.
Sudirman menegaskan, pengusaha Indonesia bisa masuk ke berbagai sektor di negara-negara Afrika seperti industri telekomunikasi.
"SDM mereka belum banyak yang mengenal teknologi informasi, sementara kita sudah lama masuk ke situ," ujarnya.
Di bidang pertambangan, investasinya juga sangat menjanjikan seperti tambang emas, perak, berlian, disamping gas dan minyak.
Pengusaha Indonesia yang investasi di sana bisa membawa para pekerja.
Peluang investasi dan perdagangan di Afrika, menurut Sudirman sangat menjanjikan. Pengusaha Indonesia telah mulai melakukan investasi di berbagai negara Afrika yang sifatnya untuk memperluas dan perpanjang pasar di negara tersebut.
Beberapa komoditi yang tidak laku lagi di Indonesia, di negara Afrika banyak diminati. Ia mencontohkan sabun colek produksi PT. Sinar Antjol yang laku keras di negara Etiopia.
"Dalam jangka waktu empat tahun, produksi sabun colek sudah menguasai 40 % pasar di Etiopia dan sekarang sudah memperluas ke negara seperti Madagaskar," ujarnya.
Pasar bagi produk Indonesia di Afrika sangat luas. Dengan penduduk benua hitam yang mencapai 820 juta jiwa, berbagai macam produk sangat mereka butuhkan, karena industri mereka belum tumbuh seperti di Indonesia. (*/rsd)