< >

Singapura Dihantui Epidemik DBD

Selasa, 08 April 2008 19:01
Kapanlagi.com - Kasus Demam Berdarah kini semakin meningkat jumlahnya di Singapura yang merupakan akibat dari rangkaian wabah dari jenis penyakit infeksi yang bersifat lebih fatal, sehingga menimbulkan kekhawatiran dari negeri satu kota itu akan kemungkinan terjadinya epidemik yang terburuk, media massa setempat melaporkan Selasa.

Terkecuali kecenderungan penularan penyakit tersebut dapat dihentikan, dan pejabat Departemen Kesehatan Singapura telah mengingatkan masyarakat negeri itu bahwa jumlah penderita dapat terus bertambah hingga mencapai rekor selama tiga tahun.

Jumlah kasus terinfeksi mulai Januari hingga akhir Maret sudah mencapai 60% dari jumlah penderita pada kwartal pertama tahun 2007, demikian angka-angka yang dikatakan oleh Departemen Kesehatan yang dikutip oleh harian The Strait Times.

"Apabila tak ada cara dan upaya untuk menghentikan penyebaran, maka jumlah kasus DBD akan terus meningkat secara mencolok," kata Dr. Ng Lee Ching kepala Lembaga Kesehatan Lingkungan seperti yang dikutip oleh The Strait Times.

Penyakit yang mempunyai gejala seperti flu namun dapat menyebabkan kematian itu yang disebut "dengue haemorrhagic fever" atau yang kita kenal sebagai Demam berdarah (DBD) hingga kini belum memiliki vaksin atau obat penangkalnya.

Umumnya para penderita hanya dapat ditangani mengatasi demam yang tingginya yang berfluktuasi, disertai gejala badan terasa nyeri dan pendarahan pada pembuluh darah halus di permukaan kulit yang terlihat seperti bintil-bintil merah.

Sebanyak 20 orang penderita di Singapura meninggal dunia tahun lalu akibat DBD.

Para ahli semakin berupaya dan memfokuskan kepada masalah DBD karena nyamuk Aedes yang menjadi medium penyebaran penyakit ini tampaknya telah berpindah-pindah ke wilayah yang sebelumnya tidak pernah menjadi daerah wabah.

Singapura telah menghabiskan dana sebesar SIN$200 ribu (US$145 ribu ) per hari dalam upaya penanggulangan secara maksimal untuk menghancurkan wilayah sarang nyamuk Aedes dan menargetkan pengasapan atau sejenisnya di wilayah-wilayah di mana terjadi dua kasus DBD.

Tahun lalu lebih dari 5 ribu pemilik rumah dikenakan sanksi berupa denda sebesar SIN$200 (atau US$145 ) karena kedapatan lalai membiarkan adanya sarang nyamuk di rumah mereka.

Sedangkan tempat-tempat pembangunan gedung bertingkat yang juga kedapatan membiarkan terjadi sarang nyamuk di proyek pembangunan mereka dikenakan denda sebesar SIN$2 ribu (US$1.459 ).

"Kami tak mengerti mengapa jumlah kasus DBD terus menerus bertambah," kata Ng. (*/rsd)