Kadisperindag Jatim, Cipto Budiono di Surabaya, Rabu, mengemukakan, meskipun peranan kenaikan harga minyak bumi amat tinggi, tetapi kenaikan ekspor nonmigas cukup signifikan. Ini membuka peluang baru bagi peningkatan pertumbuhan secara keseluruhan.
"Kinerja ekspor nonmigas Jatim terus menanjak di tengah situasi yang pesimistis, akibat kenaikan harga minyak dunia, dampak lumpur Lapindo serta hambatan-hambatan ekspor lain sepanjang tahun 2007," katanya menegaskan.
Selama 2007, volume ekspor nonmigas Jatim mencapai 8,32 juta ton atau mengalami kenaikan 21,25 % dibanding tahun 2006 yang hanya berjumlah 6,87 juta ton. Sedangkan nilainya menembus angka US$11,67 miliar , naik cukup signifikan, yakni 29,38 % dibanding tahun 2006 senilai US$9,02 miliar .
Menurut dia, kinerja ekspor nonmigas ini mempunyai makna penting, karena Jatim dapat melampaui target nilai secara nasional sebesar US$10,80 miliar .
Pada awal tahun 2008 selama Januari hingga Februari, secara komulatif nilai ekspor nonmigas Jatim tercatat US$1,87 miliar dengan kenaikan 9,04 % dari periode sama tahun 2007, tetapi volumenya berjumlah 928,82 ribu ton mengalami penurunan 21,25 %.
Cipto menuturkan, diantara 33 provinsi di Indonesia, ekspor nonmigas Jatim selama ini selalu menempati urutan ke-3 setelah DKI Jakarta dan Riau. Tahun 2007 nilai ekspor nonmigas Jakarta tercatat US$31,208 miliar , Riau US$13,259 miliar dan Jatim US$11,67 miliar .
Ia menjelaskan, membaiknya kinerja ekspor nonmigas Jatim tersebut, sangat didukung oleh realisasi 10 kelompok komoditi utama dari total lebih dari 3.000-an jenis komoditi ekspor.
Kesepuluh kelompok komoditi utama tersebut, selain memberikan kontribusi paling dominan (78,10 %) terhadap total ekspor nonmigas, juga semuanya mengalami peningkatan cukup signifikan dengan rata-rata tumbuh 29,33 %.
Realisasi nilai ekspor ke-10 kelompok komoditi tersebut dalam dolar AS, pengolahan tembaga, timah dan lainnya senilai 1.931.841.897, kimia dasar 1.844.464.242, pengolahan kayu 1.190.553.513, besi baja, mesin dan otomotif 1.007.548.697, pulp dan kertas senilai 995.140.755.
Sementara urutan berikutnya makanan dan minuman, US$546,8 juta, tekstil US$438,5 juta, pengolahan karet US$432,23 juta, udang US$388,1 juta serta alat-alat listrik senilai US$337,3 juta.
Dilihat dari struktur ekspor nonmigas Jatim itu, selalu didominasi produk-produk manufaktur. Tahun 2007 industri memberikan pangsa 92,32%, disusul sektor pertanian 7,11 % dan sektor pertambangan 0,54 % serta lainnya 0,03 %.
"Hal ini membuktikan, kekuatan industri Jatim sangat berpotensi dalam menopang struktur ekspor kita, bukan karena akumulasi dari provinsi lain di kawasan Indonesia Tengah dan Timur," demikian Cipto Budiono. (*/rsd)