
Dalam dialog bertajuk 'Sastrawan Bicara Siswa Bertanya' yang dihadiri ratusan siswa SMU di Pangklapinang, Kamis (10/4), Putu menegaskan, pemahaman siswa tentang seni dan keingintahuan mereka sungguh-sungguh diluar perkiraan, mengingat Bangka bukanlah kota besar seperti provinsi lain di Indonesia.
Hal itu tercermin dari 49 pertanyaan yang diajukan berbagai siswa yang menyiratkan pemahaman mereka terhadap puisi, cerpen dan prosa.
"Pujangga besar Plato menyatakan yang paling sulit bukan menjawab pertanyaan, tapi bagaimana memetakan isinya dan siswa sudah melakukan dengan baik," ujar penyair kelahiran Tabanan Bali 64 tahun lalu itu.
Putu yang pernah mengajar seni di AS atas undangan Fulbright pada 1985-1989 itu menegaskan, puisi itu punya jiwa dan ruh, sehingga saat membuat dan membacanya harus dilakukan dengan penjiwaan dan sepenuh hati.
Di Indonesia puisi sudah begitu diminati sehingga sebanyak sebanyak 30 juta jiwa penduduk Indonesia telah pernah membacakan puisi.
"Kita ingin dari temu semacam ini muncul penulis dan pembaca puisi, cerpen dan prosa berkaliber nasional dan internasional. Minat dan pengetahuan sudah ada yang punya tinggal bagaimana memolesnya," ujarnya.
Sastrawan lain Joni Ariadinata, menegaskan, sastrawan itu meniru dari tokoh sebelumnya dan selanjutnya berimprovisasi untuk membuat dan mengembangkan sendiri karya sastranya.
Atas dasar itu, seorang yang berkeinginan menjadi sastrawan haruslah banyak membaca dan punya wawasan luas tentang puisi, cerpen dan prosa itu sendiri.
Wan Anwar, penulis cerpen menyatakan, yang terpenting untuk menjadi penulis ada kemauan terlebih dahulu setelah itu baru diikuti dengan banyak belajar dan dibimbing oleh ahlinya.
Profesi seniman menurut Wan Anwar tergantung kepada masyarakat dalam menilainya bila dikaitkan dengan materi yang didapat.
Di Indonesia sendiri hanya sebagian saja sastrawan yang betul-betul mengandalkan hidupnya dari hasil sastra sementara lainnya selain pentas juga berprofesi sebagai dosen, wartawan, bahkan dokter.
Seorang siswa, Lusi, dari SMA 2 Pangkalpinang, mengaku pengetahuannya dalam menulis puisi dan cerpen serta membaca pusi dan prosa jadi bertambah dengan adanya temu sastrawan itu.
Lusi yang ketika bertanya mengambil kesempatan membaca satu bait puisi dengan suara melengking dan jernih itu mengatakan, semakin termotivasi untuk mendalami puisi setelah mendapat penjelasan dari empunya.
"Teknik olah vokal, bahasa tubuh serta penguasaan panggung merupakan yang utama. Selama ini sebagian sudah diketahui tapi belum dapat kiatnya," ujar Lusi. (*/bun)
Lihat Profil: Putu Wijaya