Ke-30 sandera itu, 22 di antaranya orang Perancis, ditangkap di kapal mewah Le Ponant oleh kelompok bajak laut di lepas pantai Somalia satu pekan lalu. Enam dari delapan sandera lain berasal dari Filipina.
Kapal tersebut diserbu dan dibawa ke Teluk Aden oleh perompak-perompak bersenjata itu pada 4 April dan dilaporkan berada di lepas pantai Somalia, sebelah selatan wilayah otonomi Puntland.
Pemerintah Perancis mengadakan kontak dengan penculik dan juga mengirim satu unit pasukan khusus ke Djibouti, yang berjarak sekitar 1.000 kilometer, untuk menekan perompak agar mencapai sebuah penyelesaian cepat atas negosiasi.
Presiden Perancis Nicolas Sarkozy berterima kasih kepada pasukan keamanan Perancis dan badan-badan negara karena bisa mencapai pembebasan sandera "secara cepat dan tanpa insiden".
Rincian lebih lanjut mengenai hal itu belum diberikan.
Sarkozy dijadwalkan bertemu dengan keluarga sandera-sandera yang telah bebas itu pada Jumat malam.
Menteri Luar Negeri Perancis Bernard Kouchner mengatakan, Perancis akan mengatur pemulangan segera para mantan sandera itu, dan masyarakat internasional harus bergerak untuk memerangi perompakan di kawasan Teluk Aden dan lepas pantai Somalia.
Paris juga berniat mendesak PBB memberikan perlindungan bagi pelayaran internasional di dekat pantai Somalia.
Terdapat 263 serangan bajak laut yang tercatat secara resmi di seluruh dunia pada 2007. Tidak semua serangan dilaporkan.
Perompakan di lepas pantai Somalia, yang terletak di bibir Laut Merah, meningkat sejak negara itu terjeblos ke dalam kekacauan setelah diktator Mohamed Siad Barre digulingkan oleh para panglima perang pada 1991.
Seringnya serangan bajak laut di kawasan Teluk Aden, sebuah rute dagang utama antara Asia dan Eropa, telah membuat perairan itu menjadi daerah paling rawan perompakan di dunia. (*/cax)