"Alokasi dana untuk pengembangan dan pelestarian subak sebesar Rp 46,9 miliar akan diserahkan Gubernur Bali Drs Dewa Beratha akhir aPRIL kepada masing-masing kelian (ketua) subak," kata Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi Bali, Drs Nyoman Nikanaya di Denpasar Minggu.
Ia mengatakan, dana bantuan untuk pemberdayaan subak mengalami peningkatan sebesar Rp 11,8 miliar dari Rp 35,1 miliar dalam tahun 2007 menjadi Rp 46,9 miliar pada tahun 2008.
Bantuan untuk organisasi subak dalam tahun 2008 ini merupakan yang ketiga kalinya dan diharapkan bisa diberikan secara berkesinambungan di masa-masa mendatang.
Bali memiliki 2.345 organisasi subak yang terdiri atas subak di lahan basah 1.559 buah dan subak abian (di lahan kering) 786 buah yang tersebar di delapan kabupaten dan satu kota di Bali.
Nikanaya menjelaskan, penggunaan dana sebesar Rp 20 juta per subak diarahkan untuk berbagai kegiatan sesuai hasil kesepakatan petani yang terhimpun dalam wadah organisasi pengairan tersebut.
Bantuan kepada subak dimaksudkan untuk memelihara dan melestarikan organisasi subak yang cenderung lahannya semakin menyusut, akibat peralihan lahan pertanian yang tidak dapat dihindari.
Padahal organisasi subak yang diwarisi secara turun temurun oleh masyarakat Bali sudah dikenal ke berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.
Bahkan ahli pertanian dari sejumlah negara pernah mengadakan studi banding mengenai subak ke Bali. Dikenalnya subak di mancanegara hendaknya mampu mendorong semua pihak untuk tetap melestarikan subak di Bali, harap Nikanaya.
Irigasi pengairan yang lebih dikenal dengan subak mampu menyukseskan pembangunan bidang pertanian, yang pada gilirannya berdampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat.
Organisasi pengairan tradisional dinilai sangat ampuh dan efektif dalam mengatur irigasi sehingga lahan pertanian mendapat pengairan secara teratur sepanjang tahun.
Sistem subak, manajemen pembangunan bidang pertanian sudah teruji keampuhannya dalam mengatur pembagian air secara merata, memelihara serta memperbaiki sarana dan prasarana irigasi pertanian.
Atas keampuhan dan prestasi tersebut, subak sering dijadikan contoh bagi negara-negara asing maupun berbagai daerah di Indonesia, tutur Nikanaya. (kpl/dar)