Surat kabar Inggris itu mengutip wakil menteri luar negeri AS, Thomas Pickering, yang mengatakan bahwa satu kelompok mantan diplomat AS dan para pakar kebijakan luar negeri telah mengadakan pertemuan dengan para akademisi Iran dan para penasehat kebijakan mereka `di tempat-tempat berbeda, namun bukan di AS ataupun Iran` selama lima tahun belakangan ini.
"Beberapa para Iran itu mempunyai kaitan dengan lembaga-lembaga resmi di dalam negeri Iran," kata Pickering kepada surat kabar itu.
Pada pekan lalu, AS mengingatkan Iran bahwa pihaknya menanggung resiko terisolasi lebih lanjut dan mendapatkan sanksi-sanksi internasional baru setelah menolak menuruti resolusi-resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) berkaitan dengan sengketa program nuklir mereka.
Pihak negara-negara Barat takut Iran akan menggunakan uranium yang diperkaya untuk membuat senjata nuklir, namun Iran menolak untuk menghentikan proses yang telah diberi sanksi melalui resolusi-resolusi sanksi Dewan Keamanan PBB dan tekanan-tekanan AS di bidang sistem perbankan.
Pemerintah AS mengharapkan sanksi-sanksi akan lebih ditingkatkan lagi sebagai tekanan terhadap kepemimpinan Iran, dengan mana Teheran tidak mempunyai hubungan-hubungan diplomatik.
Independent melaporkan bahwa kelompok kontak telah dibentuk oleh Asosiasi PBB di AS yang difasilitasi oleh Lembaga Riset Perdamaian Internasional Stockholm, satu himpunan pemikir yang dipimpin oleh mantan ketua inspektor persenjataan PBB, Rolf Ekeus.
"Kami telah membahas apa yang sedang dilakukan di dalam negeri kedua negara dan masalah-masalah yang sangat luas," kata The Independent mengutip pernyataan Pickering.
Dia menambahkan bahwa meskipun tak satupun anggota kelompok dari pemerintah As dan Iran, `masing-masing pihak memelihara petugas-petugas informasi mereka,` menurut surat kabar Inggris itu. (*/cax)