Kereta api "Moitree (Persahabatan) Express" yang melayani jaringan antara kota India timur Kolkata dan ibukota Bangladesh Dhaka tersebut dibuka kembali oleh Menteri Luar Negeri India, Pranab Mukherjee, dalam upacara yang penuh warna bersamaan dengan Tahun Baru Bengali.
Dihiasi dengan bunga-bunga, enam kereta itu membawa 250 penumpang memulai perjalanan sepanjang 500 kilometer ke Dhaka, setelah Mukherjee memberikan sinyal melalui remot-kontrol.
Menteri menyebut hal itu sebagai hari yang `bersejarah dan patut dikenang` oleh kedua negara, dan menyatakan terima kasih kepada pihak perusahaan kereta api atas dibukanya kembali layanan itu, yang menurutnya, akan membuat hubungan bertetangga semakin erat.
Namun kereta api berhenti sesaat ini distrik Nadia di perbatasan Bangladesh, pada saat sekitar 50 pemrotes meminta bantuan untuk para pengungsi Bangladesh berjongkok di jalur-jalur kereta tersebut.
Pasukan keamanan yang ada di dalam kereta turun pada saat kereta itu berhenti, dan tanpa menggunakan kekerasan terhadap para pemrotes yang kemudian meninggalkan aksinya, kata kantor berita PTI.
Para petugas kereta api mengatakan, Moitree Express akan membuka layanan dua kali dalam sepekan. Kereta tersebut akan bertolak dari Kolkata ke Dhaka setiap Sabtu dan Ahad. Layanan India akan berkapasitas 368 penumpang sedangkan dari Bangladesh bisa memuat 418 penumpang.
Layanan kereta ini terhenti setelah perang 1965 antara India dan Pakistan, yang mana Bangladesh kemudian berkedudukan di bagian timur. Bangladesh memperoleh kemerdekaan pada tahun 1971, namun negara itu tak sampai 2001 kedua negara memulai melanjutkan kembali hubungan kereta api mereka.
Para pejabat kereta api mengatakan, bahwa berdasarkan kesejarahan bersama, kebudayaan dan bahasa Bengali yang sama, masyarakat perbatasan kedua pihak meminta dibuka kembali layanan kereta api secara teratur.
Banyak rakyat Bengali yang tinggal di negara bagian Bengali Barat, India, mengatakan bahwa mereka hendak berkunjung ke desa-desa asal mula mereka di Bangladesh.
"Itu adalah tanah air saya. Saya lahir di Bangladesh dan belajar di universitas Dhaka. Saya juga bekerja sebagai kepala sekolah sebelum kami berpindah ke India," kata seorang penumpang yang dimuat dalam saluran berita Headline Today. (*/rsd)