"Sampai sekarang belum ada keputusan, semuanya masih dibahas di DPR," kata Meneg BUMN, Sofyan Djalil, di Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan, pihaknya tengah meminta direksi dan komisaris KS untuk mendengar dan mempelajari proposal dari investor strategis yaitu perusahaan baja terbesar di dunia, Arcelor-Mittal yang baru-baru ini menawarkan kerja sama.
Pihaknya baru akan membahas opsi privatisasi paling menguntungkan bagi KS yaitu IPO (Initial Public Offering) atau strategic sales.
"Kita lihat nanti bagaimana, (opsinya) kan IPO atau strategic sales. Kalau Mittal sendiri mengajukan 30 sampai 40% melalui IPO atau strategic sales," katanya.
Menurut dia, hal yang terpenting saat ini adalah upaya untuk meningkatkan kapasitas industri baja nasional.
Saat ini kapasitas industri baja nasional baru sekitar 2,5 juta ton dan pada 2011 ditargetkan mampu mencapai paling sedikit 10 juta ton.
Ia mengatakan, pihaknya akan mempertimbangkan kebutuhan dana bagi KS baik yang nantinya diperoleh melalui IPO ataupun strategic sales.
"Kita tergantung kebutuhannya saja nanti artinya dalam privatisasi kalau IPO berapa persen kalau strategic sales berapa persen tapi kita tetap mayoritas," katanya.
Jadi, katanya, bila diterapkan strategic sales maka tidak akan dilanjutkan ke IPO tetapi bila IPO boleh jadi opsi strategic sales juga dilakukan, tergantung kondisi ke depan nantinya.
Pihaknya sejauh ini belum menetapkan persentase penanaman modal bagi Arcelor-Mittal di KS. Sedangkan Mittal sendiri menawarkan 30 hingga 40%.
"Kalau Mittal masuk untuk apa IPO, karena yang paling penting adalah meningkatkan produksi baja nasional bukan sebatas KS saja," kata Menteri.
Sofyan menilai, kemungkinan besar Arcelor-Mittal menginginkan opsi strategic sales bagi KS agar bisa menempatkan direksi dan komisaris dalam jajaran manajemen.
Saat ini pihaknya sedang menunggu presentasi proposal dari Mittal yang rencananya akan dilaksanakan pekan depan.
"Proposal Mittal baru akan dipresentasikan minggu depan jadi belum ada keputusan final," demikian Sofyan Djalil. (*/lin)