Hingga Rabu malam, para peserta Diklat yang berasal dari beberapa daerah di Jatim itu masih menjalani perawatan secara intensif di Puskesmas Sanan Wetan, Kota Blitar.
Salah satu korban, Juwariyah (16), mengaku perutnya sampai saat ini masih terasa sakit setelah makan nasi dengan sayur asam lengkap dengan ikan asin. Makanan itulah yang juga dikonsumsi oleh 70 peserta Diklat.
"Semua merasakan sakit perut dan ingin muntah. Bahkan kami semua langsung berlarian ke kamar mandi," kata peserta Diklat asal Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung itu.
Setelah muntah-muntah, para peserta Diklat dari Kabupaten/Kota Kediri, Kabupaten/Kota Blitar, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tulungagung, dan Kabupaten Nganjuk itu langsung dibawa ke Puskesmas Sanan Wetan.
"Karena tiba-tiba kondisi kami menjadi lemah. Kami langsung dibawa ke Puskesmas oleh beberapa orang pembina," kata Juwariyah menuturkan.
Salah seorang korban lainnya, Dedi (18), mengaku kepalanya terasa sakit satu jam setelah makan makanan yang dihidangkan pada siang hari itu.
"Setelah kepala terasa berat, badan ini gemetar dan muntah-muntah," kata peserta Diklat asal Kota Blitar itu saat ditemui sejumlah wartawan di Puskesmas Sanan Wetan.
Hal itu dibenarkan oleh Kepala PSBR Dinsos Jatim, Dwi Endang Rijanti. "Jadi tidak langsung setelah makan, tapi baru terasa satu jam kemudian," jelasnya.
Makanan yang dihidangkan kepada para peserta Diklat itu dimasak oleh Sukatmo dan Siswati yang sudah bertahun-tahun menjadi juru masak di PSBR Kota Blitar.
"Masaknya pun dilakukan di dapur PSBR ini, tidak dikerjakan di rumah," kata Dwi Endang menambahkan.
Ia menganggap peristiwa itu sebagai kecelakaan dan pihaknya bertanggung jawab atas semua biaya pengobatan para peserta Diklat itu sampai benar-benar sembuh.
Sementara itu, Seksi Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Blitar, Didik Djumianto, mengaku telah mengirimkan sampel makanan yang dianggapnya sebagai biang keracunan para peserta Diklat itu ke laboratorium Dinas Kesehatan Jawa Timur di Surabaya.
"Ini untuk mengetahui sebab-sebab terjadinya para siswa keracunan," katanya dengan menyebutkan sampel makanan yang dikirim itu berupa nasi, sayur asam, ikan asin, sambal, air putih, dan kue. (kpl/rif)