< >

Kesulitan Minyak Tanah Landa Lebak

Rabu, 16 April 2008 19:40
Kapanlagi.com - Selama satu pekan terakhir, warga Kabupaten Lebak, Banten, mulai kesulitan minyak tanah akibat tingginya permintaan dan terjadi aksi borong.

"Selama ini saya kesulitan membeli minyak tanah karena di sejumlah pangkalan resmi terjadi aksi memborong," kata Tini (45) seorang ibu rumah tangga warga Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Rabu.

Menurut dia, aksi memborong itu mengakibatkan warga kesulitan untuk mendapatkan minyak tanah di pasaran. Selain itu, terjadi kenaikan harga hingga mencapai Rp 3.500 per liter. "Itu juga sulit didapatinya," katanya.

Karena itu, pihaknya terpaksa menggunakan bahan bakar alternatif, yakni menggunakan kayu bakar.

"Saya hampir empat hari memasak membeli kayu bakar yang ada di kampung," kata dia.

Ia mengatakan, kesulitan ini membuat ibu-ibu rumah tangga `menjerit` karena sebagian besar menggunakan minyak tanah untuk keperluan memasak. Dengan memakai kayu bakar, akunya, biaya menjadi lebih mahal.

Saat ini, ujar Tini, bahan bakar kayu harganya sudah mencapai Rp 5.000 per ikat. "Kayu bakar sebanyak itu hanya keperluan memasak cukup seharian,"ujarnya.

Begitu pula Aminah (35), warga Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, mengemukakan, sampai saat ini pasokan mitan ke pangkalan resmi belum ada, sehingga warga beralih ke bahan bakar kayu. "Saya sudah mencari minyak tanah ke mana-mana, namun tidak ada di pangkalan atau di warung pengecer," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan dan Industri Kabupaten Lebak, Djakaria, mengatakan, sebetulnya pasokan minyak tanah untuk kuota warga Kabupaten Lebak tidak kurang. Sebab,tambah dia, setiap pangkalan resmi mendapatkan jatah penjualan sekitar 5.000 liter dari Pertamina, Gurem, Merak.

"Jika terjadi kelangkaan minyak itu karena tingginya permintaan di masyarakat,"katanya.

Ia menyebutkan, hingga saat ini pasokan mitan di Kabupaten Lebak kondisinya stabil dan belum perlu dilakukan operasi pasar (OP), karena kalau dilihat kuota antara pasokan dan kebutuhan masih normal. Akan tetapi, kesulitan ini akibat terjadi aksi borong untuk diselundupkan ke luar daerah.

"Saya minta aparat polisi menindak-tegas pelaku penyelundup mitan ke luar daerah," ujar Djakaria. (kpl/rif)