Menurut Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NAD, dr TM Thaib, hal ini disebabkan banyak faktor.
"Sejumlah faktor yang menyebabkan masih tingginya AKB di Aceh antara lain: karena berat bayi yang rendah, gangguan pernafasan dan kurangnya pengetahuan ibu tentang pentingnya pemberian Air Susu Ibu (ASI)," katanya di Banda Aceh, Rabu (16/4).
Untuk itu, kata dia, salah satu cara upaya penurunan AKB itu yakni melalui peningkatan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya memberikan ASI bagi bayi mereka.
"Program penurunan AKB itu merupakan tujuan pembangunan millenium (MDGs) untuk kesehatan anak pada tahun 2015," tambahnya.
Oleh karenanya, pihaknya menyambut baik rencana kegiatan "inisiasi menyusu dini dan pemberian ASI eksklusif kepada bayi yang dilahirkan" dan dijadwalkan berlangsung di Taman Sari Kota Banda Aceh pada 20 April 2008.
"Melalui program itu saya harapkan para ibu hamil dapat memperoleh pengetahuan terkait pentingnya pemberian ASI eksklusif bagi bayi yang baru di lahirkan guna menurunkan AKB," katanya.
Acara tersebut digelar Dinas Kesehatan Provinsi NAD dan didukung lembaga internasional (Health Services Program/HSP) serta pihak lembaga bantuan Amerika Serikat (USAID). Kegiatan itu juga bertujuan untuk membantu para ibu hamil dalam merawat bayi baru lahir.
Ia merujuk sebuah studi yang dipublikasikan lembaga kesehatan Amerika Serikat pada 2006 yang menyebutkan temuan bahwa praktik inisiasi menyusui dini dapat menurunkan AKB hingga 22%.
"Hasil penelitian tersebut juga menyebutkan inisiasi menyusui dini dapat melindungi bayi dari infeksi, diare, gangguan pernafasan dan hipothermia," kata TM Thaib.
Acara yang digelar di pusat Kota Banda Aceh itu juga akan menampilkan pakar ASI, dr Utami Roesli SpA, MBA, sebagai pemateri utama dalam sosialisasi program menyusu dini kepada seribuan peserta tersebut. (kpl/rif)