"Kami menahan 116 penentang di dekat kedutaan besar Cina," kata perwira polisi Hom Jung Chauhan.
"Mereka ditahan di berbagai kantor polisi dan akan dilepaskan pada Rabu malam," kata polisi itu.
Nepal ditinggali sedikitnya 20.000 orang Tibet, yang mulai tiba dalam jumlah besar pada 1959 sesudah Dalai Lama lari dari Tibet setelah gagal melakukan pemberontakan terhadap Cina.
Menurut badan hak asasi manusia, hampir 3.000 warga Tibet masih berusaha menyeberang ke Nepal dari Tibet setiap tahun.
Sebagai negara terjepit di antara raksasa kawasan India dan Cina, pemerintah Nepal menerapkan kebijakan "satu Cina," Beijing, yang menyatakan Taiwan dan Tibet sebagai bagian tak terpisahkan dari Cina.
Unjukrasa seluruh dunia meledak setelah Cina melakukan tindakan kekerasan terhadap pengunjukrasa di Tibet dan menandai hari jadi pemberontakan yang gagal pada 1959.
Pemerintah Nepal menyatakan tidak akan mengizinkan kegiatan menentang Cina di negara itu dan polisi pun berusaha membubarkan unjukrasa.
Tindakan pemerintah itu terjadi di tengah peningkatan kecaman dari badan hak asasi antar bangsa atas perlakuan keras polisi terhadap warga sipil.
Kelompok hak asasi juga menuduh penguasa Nepal mengancam pengungsi, yang terlibat dalam unjukrasa, akan dipulangkan ke Tibet. Namun, pemerintah Nepal membantah tuduhan tersebut.
Cina meminta pemerintah Nepal mencegah kelompok pendukung Tibet bergerak di Nepal, kata sebuah media resmi Nepal pada awal April lalu.
Dutabesar Cina, Zheng Xialing, menyatakan kekuatan penentang Cina itu bergerak di Nepal dengan kedok pengunjukrasa Tibet dan berusaha menyabot hubungan kedua negara tersebut.
Dengan menyebut peningkatan unjukrasa warga Tibet di Nepal sebagai "kegiatan gelap politik", Cina meminta Nepal mengambil tindakan tegas untuk mencegah kegiatan melawan China itu, kata suratkabar resmi "Rising Nepal".
Cina berusaha menumpas unjukrasa menyangkut Tibet di wilayah itu, yang mempermalukan, karena mendapat sorotan antarbangsa sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Panas pada Agustus.
Kelompok hak asasi manusia mengecam Cina dan Nepal, karena penanganan mereka terhadap unjukrasa Tibet. Kelompok hak asasi manusia menuduh mereka melanggar hak dasar penentang, termasuk hak berkumpul dan kemerdekaan berbicara, serta dengan menggunakan kekuatan berlebihan.
Tanggapan Cina itu menyusul unjukrasa warga Tibet pada awal April di Kathmandu, saat pengunjukrasa berusaha bergerak ke kedutaanbesar Cina dalam kegiatan di ibukota Nepal itu sejak 10 Maret.
Dalai lama, pemimpin rohani dan kepala pemerintah Tibet di pengasingan, menyatakan tidak mengusahakan kemerdekaan dari Cina, tapi hanya menginginkan kewenangan lebih luas bagi Tibet dalam Cina, kendati sejumlah warga Tibet terlibat dalam unjukrasa menutut kemerdekaan.
Pemerintah Nepal menyatakan tidak ada perubahan dalam kebijakannya mengakui Tibet sebagai bagian tak terpisahkan dari Cina dan tidak akan mengizinkan kegiatan menentang Cina, kendati mendapat kecaman dari Amerika Serikat dan kelompok hak asasi manusia.
Lebih dari 1.500 pengunjukrasa Tibet ditahan sejak awal unjukrasa menentang Cina di Katmandu. (kpl/rif)