Pesawat penumpang DC-9 itu terbakar tak lama setelah lepas landas dan semula hanya enam orang di pesawat itu yang diyakini selamat, namun penyelidikan lebih lanjut menunjukkan bahwa banyak dari 79 penumpang berhasil menyelamatkan diri.
Radio Okapi yang dibantu PBB menyatakan telah menghitung 33 jasad yang hangus di dua kamar mayat Goma, namun masih tidak jelas apakah korban-korban itu penumpang di pesawat tersebut atau penduduk kota itu yang sebelumnya mengalami luka-luka ketika pesawat tersebut jatuh.
"Terdapat sedikitnya 120 korban cedera, yang mencakup para penumpang yang menyelamatkan diri dari kecelakaan itu dan orang-orang di daerah komersial itu yang mengalami luka-luka ketika pesawat tersebut jatuh," kata Yann Bonzon, ketua misi Komite Internasional Palang Merah di Goma.
"Personel penyelamat masih berada di lokasi itu untuk mengetahui apakah ada mayat yang tergencet di bawah pesawat atau di rumah-rumah yang ditimpa pesawat itu," katanya, dengan menambahkan bahwa jumlah korban yang tewas dan cedera bisa berubah.
Radio Okapi mengutip seorang korban selamat yang mengatakan, pesawat itu gagal lepas landas karena sebuah bannya kempes. Pilot tidak bisa menghentikan pesawat tersebut yang kemudian jatuh di daerah Birere.
Sebagian landasan pacu bandara Goma tertutup lahar dari letusan gunung pada 2002 yang hampir menutupi kota tersebut.
Kongo termasuk salah satu negara dengan rekor terburuk kecelakaan pesawat. Negara itu menggunakan pesawat-pesawat tua yang dirawat dengan buruk untuk mengangkut warga Kongo ke penjuru-penjuru negara Afrika yang luas itu, yang memiliki ukuran sekitar Eropa Barat namun hanya mempunyai sekitar 500 kilometer jalan beraspal. (*/cax)