< >

Di Tangan Tobapulp, Berumur 4 Tahun Pinus Sudah Siap Panen

Senin, 21 April 2008 19:15
Kapanlagi.com - Para peneliti PT TobaPulp Lestari, Tbk berhasil mempercepat masa berbuah pinus mercusii"dari rata-rata 10 tahun menjadi hanya empat tahun.

Manajemen Tobapulp dalam penjelasannya di Medan, Senin, menyebutkan, keberhasilan itu dicapai melalui percobaan yang dilakukan di kebun seluas tiga hektare di konsesi TobaPulp di Aeknauli, Parapat.

Di kebun itu sejak tahun 1998 ditanam 110 pohon induk "strain" Aceh yang didatangkan dari Takengon, "strain" Aceh yang tumbuh secara alamiah di kawasan Danau Toba dan strain Tapanuli asli Toba. Pohon induk itu ditanam dengan jarak 8 x 8 meter.

Secara mengejutkan pohon-pohon pinus itu ternyata mulai berbuah dalam masa empat tahun. "Ini benar-benar sebuah kejutan karena pada tahun 2002 pohon-pohon pinus itu sudah berbuah. Sebab, pinus alam biasanya baru mulai berbuah pada usia 10 tahun," ujar Wagiman, peneliti senior pada Departemen R&D TobaPulp.

Bulan April ini pinus-pinus percobaan itu mulai berbunga lagi dan diperkirakan akan panen dalam tiga-empat bulan mendatang.

Kawasan sekitar Danau Toba dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut merupakan kawasan yang cocok untuk tanaman pinus.

Kawasan lain yang sama idealnya adalah Takengon di Nanggroe Aceh Darussalam. Kedua kawasan berada di punggung pegunungan Bukit Barisan yang membelah pulau Sumatera.

Menurut Wagiman, percepatan masa berbuah membuka peluang untuk memperoleh lebih banyak bibit dalam waktu singkat untuk kepentingan regenerasi. Target selanjutnya adalah menghasilkan bibit unggul melalui teknik persilangan.

"Unggul berarti dapat menghasilkan volume kayu lebih banyak dalam waktu lebih cepat untuk kepentingan industri, menghasilkan lebih banyak getah terpentin melalui penyadapan batang serta lebih tahan terhadap hama penyakit," jelasnya.

Khusus dalam hal pertumbuhan kayu tahunan per hektare (MAI), menurut dia, target pertama adalah pencapaian 25 hingga 30 meter kubik, yakni lebih tinggi dari rata-rata pinus alam yang hanya 20 meter kubik.

"Peningkatan MAI berarti peningkatan kubikasi kayu per hektar per tahun. Apabila MAI 25 meter kubik dapat dicapai, maka produksi kayu pinus per hektar per-1-daur (20 tahun) adalah 500 meter kubik, atau lebih tinggi dari rata-rata 400 meter kubik yang bisa dihasilkan pinus alam," ujarnya.

"Revolusi" tersebut akan menjadi komplit apabila siklus panennya juga bisa dipercepat dari 20 tahun menjadi 15 tahun atau bahkan 10 tahun. "Semua sedang diriset dan diuji coba," kata Wagiman.

Manfaat lain dari percobaan pinus tersebut adalah diperolehnya jenis paling sesuai dengan kondisi dataran tinggi yang sebagian miskin nutrisi. Sebab, pinus dengan micoriza" di akarnya sanggup hidup di lahan marjinal dan bahkan di pegunungan batu.

"Apabila pohon lain tidak dapat hidup di lahan miskin nutrisi, maka pinus dapat menjadi alternatif untuk kepentingan penghijauan atau reboisasi," katanya. (kpl/rsd)