"Kalau sekarang harga (barang-barang) naik pasti akan berpengaruh dan (investor) akan menghitung ulang investasi mereka," kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), M. Lutfi, di Jakarta, Senin.
Menurut dia, pengaruh naiknya harga minyak bumi terhadap investasi tidak hanya dialami oleh Indonesia, namun juga negara lainnya di dunia.
Lutfi menjelaskan investor yang telah mendapatkan persetujuan investasi terpaksa menunda realisasi proyeknya karena harus menghitung ulang biaya investasinya.
"Misalnya kita berbicara pabrik baja untuk 2,5 juta ton, pada tiga tahun lalu itu butuh dana investasi dua miliar dolar AS. Kalau saat ini menurut perkiraan saya dana empat miliar dolar AS tidak cukup karena harga bahan baku naik, ongkos naik. Semua biaya naik," katanya.
Meski demikian, lanjut Lutfi, hingga kini belum ada yang mengajukan perpanjangan waktu realisasi izin investasi.
"Setelah dikasih izin penanaman modal, diberi waktu 24 bulan untuk merealisasikannya. Kalau belum juga kita kasih ekstensi (perpanjangan waktu), tapi sampai saat ini belum ada yang mengajukan ekstensi. Tapi saya kira pasti ada yang menghitung ulang," paparnya.
Untuk mempertahankan daya tarik investasi ke Indonesia, lanjut Lutfi, pihaknya akan meningkatkan promosi dan memberikan berbagai insentif.
Investasi Energi
Sementara ini, Lutfi mengatakan pemerintah akan memperbaiki dan menata ulang investasi dalam sektor energi panas bumi (geothermal) agar dapat mengundang lebih banyak investor.
"Dari potensi yang ada kan yang baru jalan di Jawa Barat (Kamojang, Wayang Windu, Patuha belum jalan). Yang di tempat lain juga belum jalan, paling-paling yang bisa jalan baru 2 ribu Mega Watt sedangkan kemampuan kita sangat banyak,"ujar Lutfi.
Di kawasan ASEAN, hanya Filipina yang telah memanfaatkan energi panas bumi dengan baik. Oleh karena itu, lanjut Lutfi, pihaknya akan berdiskusi dengan perusahaan Filipina yang bergerak dalam pemanfaatan energi panas bumi untuk mempelajari pengembangan sektor tersebut.
"Hari minggu ini akan datang perusahaan negara tetangga yang cukup besar di geothemal ini, di kawasan ASEAN yang punya geothermal ini kan cuma Filipina. Kita mau berbagi cerita, kalau di sana kan jalan (pengembangannya),"jelas Lutfi.
Lutfi menambahkan pembicaraan tersebut belum akan berkembang menjadi kerja sama investasi pengembangan energi panas bumi.
Selain energi panas bumi, pemerintah juga akan mendorong investasi pemanfaatan batu bara berkalori rendah dengan memasukkan sektor tersebut dalam daftar sektor investasi yang memperoleh insentif.
"Untuk low rank coal (batu-bara berkalori rendah) itu nilai ekonomisnya bukan hanya diburning (pembakaran) di pembangkit, tapi juga dapat dimanfaatkan untuk gasifikasi dan mengembangkan industri petrokimia (berbasis gas)," ujarnya.
Untuk itu, lanjut dia, pihaknya telah meminta perwakilan Indonesia di Afrika Selatan agar menghubungi Sasol (perusahaan gasifikasi batu-bara Afsel) dan mempelajari prosedur pengembangan sektor tersebut. (kpl/rsd)