< >

Sofyan Djalil: Pabrik Gula Rafinasi Tak Ganggu Revitalisasi PG

Jum'at, 25 April 2008 05:15
Kapanlagi.com - Menteri Negara (Meneg) BUMN Sofjan A Djalil menegaskan, program revitalisasi pabrik gula milik pemerintah oleh pihak swasta akan berjalan efektif dan tidak terpengaruh oleh keberadaan pabrik gula rafinasi.

"Revitalisasi ini tetap saja efektif, tidak akan terpengaruh oleh pabrik gula rafinasi yang ada sekarang ini," katanya usai menyaksikan penandatanganan nota kerja sama operasional antara PT Kencana Gula Manis dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X di PG Ngadiredjo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Kamis.

Ia menyatakan optimistis, bahwa program revitalisasi yang dilakukan oleh pihak swasta ke sejumlah pabrik gula di bawah naungan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X, PTPN XI, PTPN II, PTPN VII, PTPN XIV, dan RNI akan mampu meningkatkan kesejahteraan karyawan pabrik gula dan para petani tebu.

"Meskipun demikian, pabrik gula rafinasi harus tetap ada," katanya sebelum meninggalkan PG Ngadiredjo.

Sofjan Djalil menyebutkan, nilai investasi yang ditanamkan pihak swasta di sejumlah pabrik gula berbahan baku tebu telah mencapai Rp4 triliun.

Dalam program revitalisasi itu, para investor tersebut menargetkan, kapasitas produksi di masing-masing pabrik gula bisa mencapai 10.000 ton tebu per hari (ton cane per day/TCD).

"Tidak seperti sekarang ini yang masih 5.000 TCD. Demikian halnya dengan rendemen, dengan revitalisasi itu investor menargetkan 9,9%, tidak lagi 7,8% seperti sekarang," katanya.

Sebaliknya Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sabil merasa pesimistis dengan target peningkatan rendemen yang dipatok oleh pihak swasta.

"Angka 9,9 ini bagi kami sangat mengejutkan. Mereka tidak tahu, meningkatkan kualitas tanaman tebu itu tidak mudah. Tanaman tebu itu sangat mudah dipengaruhi oleh cuaca, seperti hujan dan panas. Belum lagi masalah pupuk, yang sekarang ini harganya sangat mahal," katanya.

Oleh sebab itu, dia meminta pihak swasta untuk bisa memperhitungkan secara cermat. "Jangan hanya janji bisa meningkatkan rendemen saja," kata anggota Dewan Gula Indonesia (DGI) itu.

Demikian juga dengan nilai investasi untuk program revitalisasi yang mencapai Rp4 triliun, menurut Arum Sabil, tidak berarti apa-apa bagi 53 pabrik gula yang ada di Indonesia ini.

"Dulu katanya mencapai Rp9 triliun, sekarang kok malah Rp4 triliun. Ini namanya revitalisasi setengah-setengah. Ibaratnya kalau sepeda motor itu tidak bisa jalan, jangan hanya jari-jari rodanya saja yang dibenahi, tapi mesinnya, rem, dan lain-lainnya juga. Itu baru namanya revitalisasi," katanya.

Dengan nilai investasi sebesar Rp4 triliun itu, menurut Arum Sabil, para petani akan putus harapan, karena perbaikan kualitas produksi dan pemanfaatan limbah tebu sebagaimana yang direncanakan sejak tahun 2006 lalu tidak akan berjalan efektif.

"Dan lagi masyarakat tetap akan memilih gula rafinasi karena selain harganya murah, secara fisik bentuknya lebih menarik," katanya. (kpl/rsd)


BERITA TERKAIT