< >

Atasi Krisis Pangan Dunia Dengan "Back to Nature"

Jum'at, 25 April 2008 23:23
Kapanlagi.com - Duta Besar PPB Penyelenggaraan MDGs untuk Asia Pasifik, Erna Witular, mengatakan, bagi Indonesia saatnya harus menerapkan prinsip back to nature atau back to local untuk mengantisipasi dampak krisis pangan dunia saat ini.

"Krisis pangan dunia saat ini sangat berpengaruh terhadap kondisi bangsa ini, oleh karena itu, saatnya bagi masyarakat Indonesia melakukan back to nature atau back to local," ujarnya kepada wartawan usai dialog tentang MDGs (Millenium Development Goals) di Mamuju. Jumat (25/4).

Istilah back to nature atau back to local, menurut mantan Menteri Kimpraswil ini, yakni pemanfaatan pangan dalam negeri atau pangan lokal di Indonesia, dengan tujuan untuk mengurangi atau menghilangkan ketergantungan pangan dari luar negeri.

"Kalau prinsip ini bisa dilakukan oleh masyarakat Indonesia, maka dampak krisis pangan global itu bisa kita hindari," ujarnya.

Erna mengakui, muncul krisis pangan global saat ini juga sangat berpengaruh terhadap tugas yang diembannya sebagai Duta Besar PBB bidang MDGs, yakni suatu bentuk kesepakatan bersama di dunia untuk mengurangi atau menghilangkan kemiskinan dan kelaparan di tahun 2015.

"Kenaikan harga pangan dunia akan berpengaruh terhadap target MDGs, oleh karena itu, kami juga terus melakukan berbagai upaya pendekatan untuk dapat menekan pengaruh akibat krisis itu," ujarnya.

Menurut dia, kegiatan MDGs di tingkat nasional cukup bagus, dan kini pihaknya akan memfokuskan di tingkat daerah, dengan harapan upaya pengentasan kemiskinan dan kelaparan di seluruh Indonesia sampai tahun 2015 bisa berkurang atau bebas dari kemiskinan.

Sementara itu, Koordinator MDGs wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Hj. Sohra, juga sependapat dengan Erna Witular, saatnya masyarakat Indonesia harus mengkonsumsi produk dalam negeri atau produk lokal agar terhindar dari dampak krisis global.

"Back to nature atau back to local merupakan salah satu upaya untuk kita terhindar dari dampak krisis global saat ini karena potensi sumber daya alam kita cukup besar," ujarnya.

Selama ini, kata dia, Indonesia banyak bergantung pada produk pangan dari luar negeri seperti terigu, minyak goreng dan gula pasir, sehingga ketika terjadi kenaikan harga pangan dunia, juga berimbas di dalam negeri ini.

"Sifat ketergantungan seperti ini, saatnya harus dihilangkan, dan kita kembali memanfaatkan potensi lokal yang ada agar tidak terjadi krisis yang menambah jumlah kemiskinan di negeri ini bertambah," ujar Sohra yang juga mantan wartawati media massa nasional Suara Pembaharuan ini. (kpl/rif)