"Para ahli kini banyak memanfaatkan limbah perkebunan seperti kelapa sawit dan karet untuk dikembangkan menjadi pupuk organik, serta sumber energi lain seperti pembangkit tenaga listrik serta untuk reklamasi lahan tambang yang sangat memerlukan bahan organik," kata Gubernur Sumbar, Gamawan Fauzi, di Padang, Jumat (25/4).
Dia mengatakan hal tersebut berkaitan dengan digelarnya seminar Pengelolaan Limbah Perkebunan di Sumbar Melalui Penerapan Clean Development Mechanism (CDM) dengan Pendekatan Bioteknologi. Menurut dia, Sumbar akan memanfaatkan temuan teknologi para ahli itu untuk mengoptimalkan pemanfaatan limbah perkebunan yang jumlahnya cukup banyak di Sumbar, seperti kelapa sawit dan karet.
Tahun 2007, dari 3.506.390 ton produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dengan produksi Crude Palm Oil (CPO) sekitar 771.406 ton terdapat sekitar 2.734.484 ton limbah padat dari TBS kelapa sawit. Limbah padat tersebut baru sebagian kecil yang dimanfaatkan sebagai pupuk organik, terutama untuk perkebunan kelapa sawit.
Namun limbah tersebut belum banyak dimanfaatkan untuk keperluan lain seperti sumber energi bagi pembangkit tenaga listrik serta untuk reklamasi lahan tambang yang sangat memerlukan bahan organik.
Selain itu, dari hasil perkebunan karet, bijinya bisa diolah menghasilkan biodiesel, sehingga bukan hanya lateksnya saja yang bernilai ekonomis tinggi, bijinya juga bisa dimanfaatkan.
Di Sumbar, tercatat luas kebun karet alam pada tahun 2007 sekitar 149.759 hektar dengan produksi 89.714 ton.
Kepala Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) Darmono Taniwiryono, mengatakan, potensi limbah perkebunan di Sumbar cukup besar, dan seharusnya bisa dimanfaatkan untuk penghasil energi. Namun kenyataanya hal tersebut belum optimal dimanfaatkan, padahal tingkat kebutuhan masyarakat terhadap energi semakin pesat, dan diprediksi tahun 2020 meningkat capai 40%.
Aplikasi bio teknologi untuk produk perkebunan, katanya, bisa digunakan untuk pengembangan industri perkebunan yang ramah lingkungan. Menurut dia, jika lima persen saja dari limbah hasil produksi perkebunan diolah, maka dapat menghasilkan energi yang cukup banyak.
Potensi limbah perkebunan itu, katanya, telah dimanfaatkan pada beberapa daerah seperti di Seragen, Bantul dan Kalimantan Timur. Khusus Sumbar, dijadwalkan pemanfaatan teknologi itu akan dilakukan pada Kabupaten Pasaman, Dhamasraya dan Agam. (kpl/rif)