< >

TPS Proyeksikan Terjadi Kenaikan Arus Petikemas 5-8%

Senin, 28 April 2008 18:44
Kapanlagi.com - Melalui upaya perbaikan layanan serta kondisi perekonomian yang membaik, arus petikemas di PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) tahun ini diproyeksikan naik berkisar 5-8% dari tahun lalu.

"Jika arus petikemas tahun lalu mencapai 1.119.353 teus (twenty equivalent units), tahun ini diharapkan naik antara 5-8%," kata Humas PT TPS dan juga PT (Persero) Pelabuhan Indonesia III, Iwan Sabatini, di Surabaya, Senin.

Iwan mengemukakan hal tersebut terkait dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) kesembilan PT TPS pada 29 April 2008.

PT TPS adalah anak perusahaan PT (Persero) Pelabuhan Indonesia III hasil privatisasi 49% sahamnya yang proses tender dimenangkan P&O Ports Australia pada 29 April 1999. Sedangkan saham P&O Ports akhirnya pada Maret 2006 diambilalih oleh Dubai Ports World.

Menurut Iwan, arus petikemas ekspor impor dan domestik melalui TPS pada tiga bulan pertama 2008 cenderung menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama 2007.

Bahkan, pada April 2008 arus petikemas di TPS pada 26 April lalu sudah mencapai 98 ribu teus dan hingga akhir bulan diperkirakan lebih dari 100 ribu teus atau melebihi April 2007 yang hanya 93.449 teus.

Tren peningkatan tersebut diharapkan akan terus berlanjut hingga akhir tahun 2008 sehingga arus petikemas di TPS juga bisa melampaui pencapaian 2007 sebanyak 1.119.353 teus.

Ia menilai, proyeksi kenaikan arus petikemas antara 5-8% dibandingkan tahun sebelumnya, merupakan proyeksi yang cukup realistis.

Apalagi, PT TPS pada 2007 mampu menangani arus petikemas sebanyak 1.119.353 teus atau naik sekitar 6,25% dari 2006 sebanyak 1.053.466 teus.

Sementara itu, untuk mengantisipasi meningkatnya arus petikemas PT TPS juga terus berbenah dan melakukan upaya perbaikan layanan diantaranya dengan menginvestasikan sejumlah dana untuk membeli peralatan untuk mendukung kelancaran bongkar muat.

PT TPS hingga saat ini telah menginvestasikann dananya tidak kurang dari Rp90 miliar untuk menambah peralatan guna meningkatkan layanan dan menjaga kinerja operasional secara maksimal.

"Alokasi dana itu hanya untuk pengadaan satu Container Crane (CC) dan dua Rubber Tyred Gantry (RTG). Masih ada investasi-investasi lain," katanya menambahkan.

Alat produksi berupa satu CC merupakan pengganti CC-07 yang roboh diterjang badai Fiona beberapa waktu silam. CC seharga Rp60 miliar itu saat ini dalam tahap ujicoba untuk dioperasikan di TPS.

Alat lainnya, dua RTG baru masing-masing senilai Rp15 miliar dan diharapkan akhir tahun ini bisa dioperasikan di TPS, enam unit "head truck" untuk menambah kelancaran pergerakan petikemas dari lapangan ke dermaga, dua forklift ber kapasitas 2,5 ton untuk menunjang kegiatan Container Freight Station (CFS).

Peralatan lainnya berupa 50 "reefer plug" untuk menambah kapasitas "power supply" terhadap petikemas berpendingin sehingga natinya berjumlah 300 reefer plug, penambahan sarana timbang bobot trailer dan muatannya serta pemasangan Global Position System untuk memantau petikemas di lapangan penumpukan.

Menyinggung kinerja operasional di TPS selama ini, Iwan menilai cukup menggembirakan.

Waktu tambat kapal (berthing time) di TPS selama ini sekitar 20 jam, perputaran armada angkutan (truck turn around time) sekitar 26 menit, pemuatan petikemas (box vesel) sebanyak 48 boks per jam dan okupansi lapangan penumpukan sekitar 33,8 persen.

Manajemen TPS berharap pada 2008 ada kenaikan kinerja diatas tiga persen dari produksi yang dicapai pada 2007.

Dengan penambahan peralatan ini, diharapkan TPS dapat menunjang kelancaran handling petikemas dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur dan Indonesia bagian Timur, demikian Iwan Sabatini. (kpl/rsd)