
"Dengan populasi 230 juta jiwa, jumlah total bioskop sebanyak 473 hanyalah sebesar nol koma sekian persen kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan fasilitas hiburan film," kata Raam dalam acara bedah buku 100 Tahun Bioskop di Indonesia karya H M Johan Tjasmadi di Jakarta, Senin (28/4).
Sehubungan itu, bos Rapi Film itu mengatakan, upaya memajukan industri perfilman nasional mutlak dilakukan dan harus didukung semua pihak termasuk pemerintah.
Menurut Raam, semakin banyak produksi film berkualitas dan sekaligus disukai masyarakat akan mendorong pertumbuhan gedung bioskop. "Kalau film hidup, bioskop pun hidup," katanya.
Menurut dia, terbitnya buku sejarah 100 Tahun Bioskop di Indonesia akan memberi manfaat besar bagi industri hiburan itu sendiri, karena ada banyak sekali pengetahuan yang dapat dipelajari. "Paling tidak untuk bahan dasar penulisan selanjutnya," katanya.
Buku karya Johan Tjasmadi mengungkap tidak hanya sejarah bioskop di Indonesia, tetapi juga pengalaman sang penulis sebagai pengusaha bioskop selama 50 tahun terakhir, sebagian besar ketika menjabat ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia sejak 1970-1999.
Pengusaha yang memulai karir tahun 1954 sebagai tukang sobek tiket di bioskop Garden Hall (sekarang TIM 21) ini juga membeberkan pengetahuannya tentang keterkaitan film laris dan logika penonton, serta tanggung jawab pembuatan film dari segala aspek kehidupan masyarakat, budaya, dan bangsa.
Menurut buku itu, jumlah bioskop pada masa Hindia Belanda (1900-1942) mencapai 300 gedung kemudian merosot drastis hingga tersisa 52 di era Pendudukan Jepang, dan sampai saat ini jumlahnya tidak lebih dari 473.
"Padahal jumlah penduduk terus bertambah, sekarang sudah sekitar 230 juta orang," pungkas Raam. (*/boo)
Lihat Profil: Raam Punjabi