< >

Georgia Peringatkan Rusia Agar Tidak Tambah Pasukan Pemelihara Perdamaian

Rabu, 30 April 2008 12:32
Kapanlagi.com - Georgia memperingatkan Rusia agar tidak menambah personil pasukan pemelihara perdamaiannya di daerah konflik, jika tidak Georgia akan memandang tindakan tersebut sebagai agresi, demikian laporan yang diterima di Moskow, Selasa.

"Pengiriman satuan bersenjata, yang memiliki status pemelihara perdamaian, ke wilayah Georgia harus dikoordinasikan dengan pihak Georgia. Moskow tidak melakukan itu," kata Pejabat Menteri Luar Negeri Georgia Grigol Vashadze dalam suatu taklimat sebagaimana dikutip oleh kantor berita Itar-Tass.

"Tindakan semacam itu oleh Rusia melanggar hukum dasar dan secara mencolok menginjak-injak kedaulatan Georgia," kata Vashadze. Ditambahkannya, perluasan pasukan Rusia akan meningkatkan ketidak-stabilan.

Perdana Menteri Georgia Lado Gurgenidze, Selasa pagi, mengatakan setiap personil pemelihara perdamaian Rusia yang ditambahkan ke pasukan kolektif di daerah konflik Abkhazia dan Ossetia Selatan "akan dipandang oleh Georgia sebagai orang yang berpotensi menjadi agresor".

Kementerian Pertahanan Rusia, Selasa, menyatakan, "Akibat meningkatnya ketegangan di zona konflik Georgia-Abkhazia tersebut, prajurit pemelihara perdamaian Rusia mengomandani sebanyak 15 pos pengamatan tambahan."

Pasukan pemelihara perdamaian kolektif Persemakmuran Negara Merdeka (CIS), yang terdiri atas prajurit Rusia, digelar di daerah konflik Georgia-Abkhazia pada 1994. Pasukan pemelihara perdamaian gabungan Georgia, Rusia dan Ossetia Utara dibawa ke zona konflik Georgia-Ossetia pada 1992 sejalan dengan persetujuan Georgia-Russia.

Kementerian Pertahanan Rusia, Selasa, mengumumkan penambahan pasukan pemelihara perdamaian ke dua wilayah Georgia sebagai reaksi atas apa yang disebutnya gerakan agresif oleh Georgia, yang pro-Barat.

"Perkembangan peristiwa itu telah menciptakan perlunya peningkatan kontingen pasukan tersebut di daerah konflik" Abkhazia dan Ossetia Selatan, kata Kementerian itu sebagaimana dikutip oleh kantor berita resmi RIA Novosti.

Rusia mempertahankan kehadiran pasukan pemelihara perdamaian di kedua daerah itu berdasarkan kesepakatan dengan Georgia pada 1990-an, menyusul perang, saat kaum separatis berusaha melepaskan diri dari kekuasaan Georgia dan membina hubungan erat dengan Moskow, yang telah mendorong masyarakat di sana untuk memiliki kewarganegaraan Rusia.

Kementerian Pertahanan Rusia, yang menuduh Georgia menggelar tentara di dekat daerah pemberontak, tak menyebutkan berapa jumlah tentara tambahan yang akan dikirim, dan pada saat yang sama merinci bahwa 15 pos pengawasan baru akan didirikan di garis depan di Abkhazia.

Sebanyak 2.000 prajurit Rusia bertugas di sana, dan sebanyak 1.000 personil lagi di Ossetia Selatan.

"Setiap upaya oleh pihak Georgia untuk menyelesaikan konflik dengan kekerasan terhadap prajurit pemelihara perdamaian Rusia dan juga terhadap warga negara Rusia ... akan dihadapi dengan jawaban keras yang sesuai," kata Kementerian tersebut sebagaimana dikutip oleh RIA Novosti.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengeluarkan pernyataannya sendiri, dan mengatakan, "Kehadiran pasukan pemelihara perdamaian Rusia tetap menjadi faktor penting dalam mencegah meningkatnya ketegangan."

Namun, Georgia justru menuduh Moskow berusaha mencaplok wilayah itu, dan dengan cepat menepis tuduhan militer Rusia serta mengatakan penambahan tentara yang diumumkan tersebut tak dapat diterima. (*/cax)