"Saya telah mengirim surat kepada Presiden (Susilo Bambang Yudhoyono). Presiden meminta saya mengkoordinasikan dengan Mensesneg Hatta Rajasa (mengenai Istana Gebang). Saya sudah bicara dengan Mensesneg. Nanti hasil pertemuan saya dengan para ahli waris akan saya laporkan ke pemerintah," kata Adhyaksa, usai pertemuan tersebut di Jakarta, Rabu (30/4).
Salah satu hasil pertemuan adalah rumah akan dijual dengan harga wajar. Sementara para artis akan melakukan malam dana untuk mengumpulkan uang guna membeli rumah tersebut. Para artis yang datang antara lain Eksanti, Ratna Lybi, Yati Octavia, dan Pong Harjatmo.
Pada 30 Juni 1962, Presiden Soekarno (Bung Karno) melepas hak atas rumah tersebut kepada kakak kandungnya Sukarmini Wardoyo. Surat pelepasan hak ditandatangani Pembantu Utama Pribadi Presiden, H Winoto Danu Asmoro.
Sebelumnya pada Sabtu (26/4) Menpora dan para artis sudah berziarah ke makam Bung Karno dan mengunjungi rumah tersebut. Kunjungan itu merupakan salah satu rangkaian rencana Menpora dan artis untuk mengadakan pengumpulan dana bagi pembelian rumah yang didiami Bung Karno hingga usia 13 tahun.
Rumah tersebut berisi benda-benda sejarah peninggalan Bung Karno semasa kecil. Di kamar Bung Karno masih ada tempat tidur beserta lemari, meja dan kursi yang digunakan Soekarno kecil. Sementara di ruang depan dan tengah selain diisi oleh meja, kursi dan lemari, juga dihiasi oleh foto-foto dan lukisan-lukisan Bung Karno.
Menpora mengatakan ia mengunjungi rumah tersebut bukan sebagai menteri, tetapi kunjungan pribadi. Menpora tergerak ke Blitar setelah mendengar pengusaha Malaysia akan membeli rumah bersejarah tersebut.
Adhyaksa menjelaskan, berdasarkan hasil pertemuan, ahli waris ingin menjual rumah tersebut bukan karena ingin mencari uang, namun karena sulit mengurus rumah tersebut karena ahli waris sudah tidak tinggal di Blitar lagi. Rumah itu juga bukan sebuah istana, namun masyarakat sekitarnya yang menyebut "Istana" Gebang, katanya.
Adhyaksa mengatakan, saat ini ahli waris memberikan kesempatan pertama kepada pemerintah untuk membeli rumah tersebut. Namun, katanya, saat ini pemerintah belum menetapkan sikap atas tawaran tersebut.
"Oleh karena itu saya akan laporkan hasil pertemuan ini ke pemerintah," katanya.
Erna Lybi yang menjadi juru bicara para artis mengatakan, setelah melakukan kunjungan ke Istana Gebang, ternyata banyak pihak yang bersimpati dan bersedia memberikan sumbangan.
"Setelah ditayangkan di media massa, ada antusias yang besar dari masyarakat. Ada pengusaha ingin sumbang. Jumlahnya miliaran," katanya.
Menurut rencana pengumpulan dana dengan tema "Selamatkan Budaya, Selamatkan Bangsa" tersebut akan dilaksanakan pada 6 Juni yang bertepatan dengan tanggal lahir Soekarno.
Sementara itu, salah satu ahli waris rumah tersebut, Bambang Sukaputro mengatakan, keputusan menjual rumah itu terjadi saat rapat keluarga 16-17 Juni 2007.
Rumah ditawarkan kepada pihak lain dengan prioritas, putra-putri Bung Karno, pemerintah dan pihak swasta dengan syarat rumah tersebut tidak boleh dialihfungsikan, seperti untuk mal dan sebagainya. Rumah juga tidak boleh dirobohkan dan harus tetap dilestarikan. Namun dari pihak Bung Karno tidak ada respons.
Mengenai harga rumah tersebut, Bambang menyerahkan kepada pemerintah. "Namun harganya yang sewajarnya," katanya.
Bambang mengatakan, harganya tentu tidak sama dengan harga Nilai Jual Objek Tanah (NJOP) karena nilainya jauh di atas NJOP. Bambang juga sempat mengatakan sudah ada pengusaha Malaysia yang menawar Rp50 miliar.
Sebelumnya, Walikota Blitar, Djarot Saiful Hidayat mengatakan, berdasarkan NJOP dan harga pasaran di kawasan tersebut, harga rumah itu sekitar Rp16-20 miliar.
Jumlah ahli waris yang datang pada pertemuan tersebut sebanyak tujuh orang, yakni enam cucu dan satu cicit dari Bu Wardoyo.
Rumah tersebut berada di tanah seluas 13.200 M2 dengan tujuh sertifikat yang seluruhnya atas nama Sukarmini Wardoyo. Sukarmini Wardoyo memiliki empat putra/putri yang semua sudah almarhum, yaitu Ing Soekonjono, Komodor Soejoso Poegoeh, Sukartini dan Suharsono Puguh. Cucu putra-putri Sukarmini berjumlah 12 orang (dua di antaranya telah meninggal dunia).
Bambang mengatakan, seluruh ahli waris sudah setuju rumah tersebut dijual. (kpl/rif)