Dirut Perum Bulog, Mustafa Abubakar, di Jakarta, Jumat (2/5) menyatakan, sejak pemberlakuan Inpres no 1 tahun 2008 yang menaikkan HPP gabah dan beras, yang terjadi di lapangan justru semakin banyak gabah petani dijual di bawah HPP.
"Bulog tetap akan membeli gabah dan beras petani pada harga HPP baru," katanya menanggapi laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan rata-rata harga gabah kering giling (GKG) dan gabah kering panen (GKP) berada di bawah HPP berdasarkan Inpres no 1 tahun 2008.
Sebelumnya, di tempat terpisah, Ketua BPS Rusman Heriawan mengatakan, dari pantauan lembaga tersebut terlihat, harga GKG per 30 April 2008, rata-rata di tingkat penggilingan Rp2.400/kg, sedangkan harga GKP di tingkat penggilingan sebesar Rp2.142/kg.
Sedangkan Inpres no 1/2008 yang berlaku sejak 22 April 2008 pengganti Inpres No.3 tahun 2007 itu menetapkan, HPP baru Gabah Kering Panen (GKP) Rp2.200/kg yang sebelumnya Rp2.000/kg, Gabah Kering Giling (GKG) di gudang Bulog Rp2.840/kg (sebelumnya Rp2.600) dan HPP beras di gudang Bulog Rp4.300 yang sebelumnya Rp4.000/kg.
Menurut dia, kasus harga GKG dan GKP di tingkat penggilingan yang di bawah HPP pada April 2008 mencapai 36,02%, meningkat dibandingkan Maret yang mencapai 30,14%.
"Dari 1.566 observasi di 20 propinsi dijumpai 564 (36,2%) kasus harga gabah di tingkat penggilingan berada di bawah HPP," katanya.
Dengan kondisi itu, menurut Dirut Bulog, pihaknya memiliki peluang untuk mendapatkan gabah dan beras petani dengan harga sesuai HPP baru di tingkat petani.
"Kita masih bisa membeli GKP seharga Rp2.200 per kilogram ," katanya.
Dia mengakui peningkatan harga gabah dan beras petani di bawah HPP setelah pemberlakuan Inpres no 1 tahun 2008.
Saat HPP lama (Inpres no 3 tahun 2007), tambahnya, harga GKP di tingkat petani yang di bawah HPP hanya 30,8%, namun kini menjadi 64,9%. Begitu juga untuk GKP di tingkat penggilingan dari 32,5% yang berada di bawah HPP saat ini menjadi 67,6%.
Mustafa Abubakar mengatakan, pihaknya akan meningkatkan kecepatan pengadaan dalam negeri untuk bulan Mei dan Juni, sehingga diharapkan target 2,43 juta ton per tahun ini terpenuhi. (kpl/rif)