"Pembangunan terowongan ini diawali dengan pelaksanaan feasibility study (studi kelayakan) selama 5-6 bulan ke depan," kata Bendahara PT Amagedon untuk proyek Indonesia, Sheehan Shahab, usai penandatanganan kesepakatan di kantor Balaikota Padang, Jumat (2/5).
Menurut dia, studi kelayakan tersebut dikerjakan seorang pakar tunnel (terowongan) asal Belanda, yakni Prof Nuddle, yang pernah membangun terowongan yang sama antara lain di Swiss, dan China.
"Seluruh pembiayaan feasibility study tersebut senilai Rp5-6 miliar itu juga ditanggung investor tanpa membebani sedikitpun keuangan pemerintah Kota Padang dan Pemerintah Provinsi Sumbar," katanya.
Ia menjelaskan, keterlibatan pihak investor Belanda dan Jerman, masing-masing pada proporsinya, dengan keahlian berbeda.
Terkait investor Strukton Civil, katanya, satu perusahaan asal Jerman itu mempunyai peralatan mesin terbaik di dunia untuk melakukan pengeboran dan membangun tunnel.
Sedangkan PT Amagedon, menguasai pembangunan dan teknologi DAM serta kanal.
"Seluruh pembiayaan pembangunan tunnel dan DAM serta kanal itu, sudah diatur oleh PT Amagedon, sementara manajemen operasionalnya nanti dilakukan dengan sistem BOT (Built Operate Transfer)," katanya.
Artinya, katanya lagi, BOT disesuaikan dengan UU yang bisa berlaku sampai 30 tahun ke depan atau bisa diperpanjang sesuai kesepakatan.
Walikota Padang, Fauzi Bahar, mengatakan, agar FS terlaksana dengan baik, sejumlah pakar geologi asal Sumbar juga diturunkan untuk mendampingi kegiatan tersebut.
"Pembangunan terowongan dirangkai dengan reklamasi Pelabuhan Teluk Bayur Padang," katanya.
Dikatakannya, untuk pembukaan jalan tembus tersebut sebanyak 800 unit rumah penduduk di Gaung Teluk Bayur akan dipindahkan ke arah barat.
Jalan tembus tersebut akan dibangun dengan membuat terowongan sepanjang enam kilometer melalui pemotongan kawasan perbukitan.
Pekerjaan fisik proyek dimulai dengan membelah bukit, katanya, sementara tanahnya (tanah hasil pemotongan bukit, red) akan dimanfaatkan untuk reklamasi Pelabuhan Teluk Bayur.
"Pembangunan terowongan tersebut membutuhkan biaya yang cukup besar, terutama untuk membuat blower, penyediaan oksigen di dalam terowongan serta biaya pengerukan sekitar sembilan juta kubik tanah," katanya.
Jika jalan tembus tersebut dapat dibuka, maka pengguna jalan dapat melakukan penghematan selama 16 menit dengan melewati Bukit Lampu sampai ke Bungus Teluk Kabung.
"Pembukaan jalan tersebut menimbulkan keuntungan ganda untuk mendukung kelancaran transportasi pengiriman BBM dari Bungus yang juga mengisi kebutuhan Riau, Jambi dan Sumut," katanya.
Ia menambahkan, keuntungan itu termasuk pengiriman CPO dari Bengkulu Utara ke Teluk Bayur, sekaligus mendukung Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus (PPSB), sebagai sentra tuna Indonesia bagian barat. (kpl/rif)