"Sebenarnya, yang naiknya lebih cepat adalah ekspor minyak dan gas, karena terkait perkembangan harga minyak dunia yang memang terus menerus naik. Dari sisi ekspor migas memang terjadi windfall profit dari kenaikan harga minyak dunia, tapi karena sebagian besar ada yang diimpor, ini yang jadi persoalan ke masalah APBN kita," kata Kepala BPS Rusman Heriawan, di Jakarta, Jumat (2/5).
BPS juga mencatat ekspor hasil pertanian Januari-Maret 2008 meningkat 41,70%, sedangkan ekspor hasil industri naik 30,48% dibanding periode yang sama tahun 2007. Sementara, hasil tambang dan lainnya turun sebesar 10,02%.
"Selama harga minyak dunia begini, bahkan trennya naik terus, maka ekspor berbasis sumber daya alam akan meningkat terus,"ujarnya.
Nilai ekspor Indonesia selama Maret 2008 mencapai US$11,90 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 12,96% dibanding ekspor Februari 2008. Sementara, bila dibanding ekspor Maret 2007 mengalami peningkatan sebesar 31,24%.
Ekspor nonmigas Maret 2008 mencapai US$9,14 miliar atau meningkat 12,09% dibanding Februari 2008, sedangkan dibanding ekspor Maret 2007 naik 21,99%.
"Peningkatan ekspor nonmigas terbesar selama Maret 2008 terjadi pada minyak hewan dan nabati, utamanya CPO. Catatan peningkatan ekspor CPO selama Maret itu luar biasa. Selama harga minyak dunia masih naik, selama itu juga dunia masih semangat mengembangkan biofuel, maka ekspor untuk CPO dan batu bara menjadi punya harga yang bagus," jelasnya.
Peningkatan nilai ekspor itu, juga didorong peningkatan volume ekspor. Rusman mencontohkan, untuk CPO selama 3 bulan terakhir volume ekspornya meningkat 47% dibanding periode yang sama tahun 2007. Peningkatan volume ekspor CPO selama Maret juga tinggi, yaitu sebesar 64%.
"Untuk CPO, kenaikan nilai ekspor karena kenaikan volume bukan harga. Ini harus diwaspadai, karena harga CPO yang terus tinggi akan menjadi ancaman bagi harga minyak goreng dalam negeri. Kalau lengah, harga minyak goreng akan naik lagi. Selama harga CPO tinggi, ekspor (akan) naik, maka terus mengancam industri minyak goreng dalam negeri," paparnya.
Peningkatan ekspor nonmigas selama Maret tertinggi terjadi pada ekspor ke Jepang yang mencapai nilai US$1,05 miliar, disusul AS US$970,3 juta, China US$852,9 juta. Kontribusi ekspor ketiga negara tersebut terhadap total ekspor adalah 31,41%, sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) mencapai US$1,16 miliar.
Impor Migas Membengkak
Meski nilai dan volume ekspor selama triwulan I 2008 dan Maret meningkat, impor juga mengalami kenaikan signifikan.
BPS mencatat, nilai impor selama Maret 2008 mencapai US$10,01 miliar atau meningkat 3,96% dibanding Februari 2008. Peningkatan impor selama Maret terdiri dari impor nonmigas sebesar US$7,60 miliar (75,92%) dan impor migas sebesar US$2,41 miliar (24,08%).
"Jadi, komposisi impor makin membengkak di impor migas seiring perkembangan harga minyak dunia. Dulu, itu (impor migas) peranannya paling 10% dari total impor, sekarang sudah 24% dalam total impor kita, karena beban yang harus kita bayar memang besar seiring kenaikan harga minyak dunia,"jelas Rusman.
Sementara itu, nilai impor selama Januari-Maret 2008 mencapai US$29,24 miliar dengan impor nonmigas sebesar US$22,41 miliar (76,64%) dan impor migas sebesar US$6,83 miliar (23,36%).
Impor nonmigas terbesar adalah mesin dan peralatan listrik dengan nilai US$3,29 miliar atau 14,70% dari total impor nonmigas Indonesia. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar ditempati oleh Jepang dengan nilai US$3,38 miliar dengan pangsa 15,08%, diikuti Cina US$3,24 miliar (14,46%) dan Singapura 2,73 miliar dolar AS (12,17%). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 24,62% dan Uni Eropa sebesar 10,15%.
Menurut golongan penggunaan barang, peranan impor untuk barang modal dan bahan baku/penolong selama Januari-Maret 2008 mengalami penurunan tipis dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu masing-masing dari 76,39% dan 13,87 % menjadi 78,00% dan 14,97%. Sedangkan impor barang konsumsi menurun dari 9,74% menjadi 7,03%.
"Impor barang konsumsi sebelumnya besar karena sumbangan yang besar itu dari impor beras, dengan tidak adanya impor beras, maka impor barang konsumsi kita turun,"jelas Rusman. (kpl/rif)