Demikian kesimpulan yang diperoleh Antara di Tokyo, Jumat (2/5), dalam perbincangan dengan biro perjalanan wisata besar Jepang, kantor perwakilan Pariwisata Indonesia di Tokyo, KBRI Tokyo, Konsulat Jenderal RI di Osaka, dan kantor perwakilan Garuda Indonesia di Tokyo.
Namun demikian, berbagai instansi perwakilan Indonesia, khususnya KBRI Tokyo, Konsulat Jenderal RI di Osaka dan Garuda Indonesia tetap bekerja keras untuk menyukseskan program yang sudah ditetapkan Jakarta tersebut.
Tidak jarang mereka harus "jungkir balik" dalam setiap kegiatan promosi pariwisata baik berskala internasional maupun di tingkat Jepang sendiri. Semuanya dilakukan agar upaya mempromosikan Visit Indonesia Year 2008 terlihat sukses, walau mereka mengakui kegiatan tersebut tidak terorganisir dengan baik.
Biro perjalanan, dan maskapai penerbangan yang menjadi ujung tombak dalam mendatangkan turis juga tidak banyak mendapatkan informasi yang jelas.
Sejumlah manajer dari HIS Co. Ltd., biro Perjalanan besar Jepang, mengatakan bahwa pihaknya sama sekali tidak mendengar adanya kampanye tersebut, sehingga tidak bisa berperan besar dalam menyukseskan kegiatan promosi wisata Indonesia.
Tour Planning Manager HIS, Katsu Segawa, mengatakan, tidak ada informasi atau kegiatan yang menjelaskan tentang Visit Indonesia Year. Keterangan ataupun pemberitahuan dari pihak KBRI juga tidak pernah diterimanya.
Untuk menunjukkan keterkejutannya bahwa ada kampanye Visit Indonesia Year, Segawa pun memanggil dua rekannya sesama manajer untuk mengkoreksi pemahamannya. Tomokazu Hoshino, Asia Area manager dan Jun Yano, pimpinan dari Regional Sales Departement.
"Saya sedikit sekali mendengar informasinya. Tidak ada yang memberikan penjelasan secara lebih detail agenda kegiatan yang dilakukan dalam Visit Indonesia Year," kata Hoshino.
Mereka pun membandingkannya dengan kegiatan serupa yang dilakukan Malaysia dalam mengkampanyekan Visit Malaysian Year, yang dinilai sukses mempromosikan pariwisata Malaysia pada tahun 2007.
"Kantor perwakilan turisme Malaysia di Jepang sangat aktif dalam mempromosikan Malaysia. Kami diundang dan mendapatkan informasi yang lengkap tentang kegiatan dan kemudahan dalam memperoleh akses informasinya,` kata Segawa lagi.
Segawa menyarankan bahkan Indonesia semestinya lebih aktif dalam bekerja sama dengan biro perjalanan Jepang, kampanye di media Jepang, menggelar pameran sendiri, yang berkelanjutan sehingga informasinya tetap ada sepanjang tahun.
Sementara itu, Country Manager dari kantor perwakilan Promosi Pariwisata Indonesia di Jepang, Tadahiko Narita, mengatakan, tidak sepenuhnya betul pandangan yang disampaikan biro perjalanan Jepang.
"Sebetulnya ada beberapa kegiatan promosi yang sudah dilakukan, seperti membagikan logo ke berbagai biro perjalanan, dan ikut serta dalam sejumlah pameran pariwisata yang ada," kata Narita.
Namun ketika ditanya mengapa publik Jepang tetap banyak yang tidak tahu, Narita akhirnya mengatakan bahwa hal itu terkendala dengan masalah dana dan koordinasi yang minim dengan Jakarta sehingga menjadikan upaya promosi sepertinya tidak berkelanjutan.
Kepala Fungsi penerangan KBRI Tokyo Ronny P Yuliantoro juga mengatakan hal senada, pihaknya tetap ikut serta dalam kegiatan pameran dan juga menyebarkan brosur serta logo dari Visit Indonesia Year.
Namun ia mengakui bahwa pihak KBRI tidak pernah menerima dana khusus untuk mempromosikan kegiatan Visit Indonesia Year. Apalagi mendapatkan bahan-bahan promosi yang cukup untuk sebuah kegiatan promosi yang berkelanjutan selama setahun.
"Kami bahkan sering menyatukan promosi Visit Indonesia Year dengan setiap kegiatan peringatan 50 tahun hubungan Indonesia-Jepang yang jatuh dalam tahun ini juga," kata Ronny.
Hal senada juga disampaikan Konsul Penerangan Konjen RI di Osaka, Masni Erisa yang menyebutkan tidak cukupnya bahan-bahan promosi yang diberikan dari Jakarta, sehingga tidak jarang pihaknya mencetak sendiri
"Kami juga sering mencomotnya begitu saja informasi Visit Indonesia Year dari situs internetnya Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. yang penting ada bahan dulu," katanya.
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pada Desember 2007 telah menetapkan bahwa tahun 2008 sebagai tahun Kunjungan Wisata Indonesia dengan target mendatangkan tujuh juta wisatawan. Pemerintah juga menyiapkan anggaran untuk sosialisasi sebesar Rp200 miliar. (*/lin)