"Dengan adanya data usaha potensial, perbankan bisa memilah-milah mana usaha UMKM yang layak dibiayai dan mana yang tidak layak dibiayai," kata anggota Kadin Provinsi Jateng, Seno Hardiono, di Semarang, Sabtu (3/5).
Jika sudah mengetahui data usaha yang potensial, maka instansi terkait bisa melakukan pembinaan, mengarahkan, dan mempublikasikan daftar UMKM di Jateng yang telah dibina serta layak mendapat pinjaman modal, katanya.
Ia menilai, kalangan perbankan hingga kini belum optimal menggarap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Jateng berjumlah 6,46 juta unit, padahal mempunyai prospek bagus jika mendapat kucuran kredit.
"UMKM di Jateng mempunyai potensi bagus jika mendapatkan pinjaman. Namun hingga kini tampaknya perbankan masih mengesampingkan UMKM, padahal mempunyai peran penting dalam perekonomian karena terbukti mampu bertahan menghadapi berbagai krisis ekonomi," kata Seno.
Dia mengatakan, UMKM di Jateng terbukti menjadi pelaku usaha paling fleksibel melakukan penyesuaian ketika terjadi kenaikan harga BBM yang cukup tinggi sehingga mampu berkembang meskipun menghadapi tekanan ekonomi yang berat.
Bahkan, UMKM memiliki potensi menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar karena UMKM yang mayoritas memanfaatkan bahan baku lokal tersebar di setiap sektor ekonomi sehingga perlu mendapat perhatian serius dalam permodalan.
Namun, katanya, kalangan perbankan di Jateng hingga kini masih mengesampingkan keberadaan UMKM karena kredit yang disalurkan untuk membantu mengembangkan usaha UMKM masih belum optimal.
Padahal jumlah UMKM dan volume usaha yang besar menunjukkan UMKM mendominasi dunia usaha di Jateng sehingga perkembangan UMKM sangat menentukan pertumbuhan ekonomi Jateng.
Keberadaan UMKM memang masih banyak menghadapi kendala untuk bisa berkembang, salah satu di antaranya menyangkut aspek permodalan karena banyak perbankan yang tidak merespon kredit yang diajukan kalangan UMKM, katanya.
Ia mengatakan, faktor utama yang bisa mengangkat UMKM di provinsi ini bisa berkembang dengan baik adalah kucuran dana, produksi, pemasaran, sumber daya manusia (SDM), informasi, dan promosi. (*/bun)