Sembako Mulai Sulit Didapat Warga Miskin di Lebak
Kapanlagi.com - Warga miskin di Kabupaten Lebak, Banten, mulai kesulitan untuk mencukupi kebutuhan bahan pokok sehari-hari sehingga dapat memicu bertambahnya jumlah penderita gizi buruk."Setiap hari saya bersama keluarga makan seadanya, jika punya uang beli ikan asin. Kalau tidak ada uang cukup makan dengan garam," kata Ny Nari (45) warga Cihiyang, Desa Rangkasbitung Timur, Kabupaten Lebak, Sabtu (3/5). Ia mengatakan, sejak terjadi kenaikan bahan pokok pihaknya merasa terpukul, karena minimnya pendapatan suami sebagai buruh perkebunan kelapa sawit. Pendapatan suami, kata dia, hanya Rp5.000 per hari sehingga tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Uang sebesar itu mana cukup untuk beli lauk-pauk karena minyak goreng saja sudah mencapai Rp 9.500 per liter," katanya. Akan tetapi, pihaknya masih terbantu tibanya musim panen karena selama dua bulan ke depan tidak membeli beras. Oleh karena itu, lanjut dia, untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga pihaknya terpaksa berjualan daun singkong. "Sehari hasil berjualan daun singkong bisa mencapai Rp5.000," kata dia. Begitu pula Udin (40) warga Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, mengaku, selama adanya kenaikan bahan pokok pihaknya mengeluhkan karena tidak dapat memenuhi kebutuhan bahan pokok. Apalagi, saat ini mulai harga minyak goreng, telur, jenis sayuran bahkan sabun mandi dan odol mengalami kenaikan. "Memang, sejak terjadi kenaikan bahan pokok kami makan sehari-hari seadanya. Yang penting ketemu nasi," kata Udin yang sehari-harinya berprofesi pengojek motor. Hal sama dikeluhkan warga miskin, Satria (50) warga Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, menyatakan, saat ini ekonomi keluarga morat-marit menyusul terjadi kenaikan kebutuhan bahan pokok, terkadang ia tak mampu beli beras serta lauk- pauk karena tak memiliki pekerjaan tetap. Bahkan, dua anaknya kakak beradik teridentifikasi gizi buruk akibat kekurangan zat karbohidrat dan protein. "Kami bisa makan jika ada warga yang menyuruh bekerja, karena selama ini masih menganggur," katanya. Sementara itu, Kasi Gizi, Dinas Kesehatan, Kabupaten Lebak, Tata Sudita, mengemukakan, saat ini jumlah balita gizi buruk tercatat 1.450 orang dan diperkirakan mengalami peningkatan disebabkan daya beli masyarakat sangat rendah. Saat ini, tambah dia, keluarga miskin merasa keberatan untuk mencukupi kebutuhan bahan pokok dengan terjadi kenaikan harga telur yang mencapai Rp 12.500 per kilogram dan belum harga lainya seperti lauk pauk serta jenis sayuran. "Balita gizi buruk sangat membutuhkan zat protein dan karbohidrat," ujar Tata Sudita. (*/bun) |