Pardoyo salah satu anggota TPI kepada wartawan di Solo, Senin, mengatakan, indikasi kecurangan itu terjadi di SMP Al Islam I Solo.
Di dinding kamar mandi ditemukan tulisan jawaban soal Bahasa Indonesia amplop seri A. Indikasi ini diperkuat banyaknya peserta ujian yang keluar masuk di kamar mandi yang sama, katanya.
"Saat siswa izin ke kamar kecil, karena waktunya bersamaan maka saya cek dan ternyata ada tulisan yang diduga itu jawaban soal Bahasa Indonesia," katanya.
Meskipun curiga, pihaknya tidak sempat mencatat siapa nama-nama peserta tersebut. Pasalnya mereka langsung lari sehingga sempat diambil tindakan.
Selain adanya indikasi kecurangan, UN juga ditemukannya soal ujian yang rusak. Akibatnya ada beberapa soal yang tidak terbaca dan terpaksa harus diperbanyak karena soal cadangan tidak mencukupi untuk mengganti soal yang rusak.
Soal-soal UN yang rusak tersebut antara lain ditemukan di SMP 18, 24, dan 25. Bahkan di SMP 25, soal rusak ditemukan di semua kelas dan hanya satu kelas yang bisa terbaca. Meskipun tidak banyak soal yang tidak terbaca, hal ini merepotkan peserta ujian karena kalimat dalam soal menjadi tidak bermakna.
"Sebagian kata dalam kalimat soal tidak terbaca, sehingga menjadi tidak bermakna soal itu," jelas Sekretaris Tim Pemantau Independen (TPI) Kota Solo, Suwarto.
Sementara itu, secara umum pelaksanaan UN kemarin lebih kondusif dibandingkan dengan UN tingkat SMA sebelumnya. Sebelum memasuki ruangan ujian, peserta digeledah untuk mengantisipasi masuknya Handphone yang akan digunakan untuk berbuat curang.
Tidak hanya peserta ujian saja yang diperiksa tetapi juga pengawas. Sehingga pada hari pertama ini tidak lagi ditemukan Hp masuk ruangan ujian, katanya.
Lebih tertibnya pelaksanaan UN tingkat SMP juga ditegaskan Wali Kota Surakarta Joko Widodo saat meninjau UN di beberapa sekolah. Wali Kota mengatakan, dari segi manajemen pelaksanaan lebih bagus.
"Di Solo juga tidak ada "tim sukses" untuk meluluskan siswanya seperti di kota-kota lain," ujarnya.
UN juga diikuti 12 peserta berkebutuhan khusus yang terbagi di dua sekolah yakni di SLB/ D YPAC dan SMP YKAB . Siswa yang memiliki keterbatasan tersebut dibantu oleh pengawas dalam mengarsir jawaban, sedangkan di SMP YKAB yang pesertanya tuna netra, guru harus mentransfer jawaban ke dalam Lembar Jawab Komputer (LJK).
Karena jawaban ditulis dalam huruf braile, sehingga guru harus memindah jawaban tersebut ke dalam LJK agar bisa dibaca komputer, kata Kepala SMP YKAB, Sri Widati.
Kepala Dinas Pendidikan dan Olah Raga (Dispora) Kota Surakarta Amsori, mengatakan, untuk latihan ujian di SMP tingkat kelulusannya mencapai 90% maka UN ini diharapkan bisa lulus 100%.
Untuk UN ini di Solo secara keseluruhan diikuti oleh 12.065 siswa, terdiri 11.231 siswa SMP, 824 siswa MTs dan 10 siswa SMPLB.
Jumlah ruang ujian 695 ruang, terdiri 342 ruang di sekolah negeri, 253 ruang sekolah swasta, 44 ruang di MTs dan lima ruang di SMPLB. (*/cax)