"Rencananya tanggal 5 Mei ini, tapi masih menunggu ijin Presiden karena ada adegan, film dokumenter saat beliau menjadi Inspektur dalam satu acara (militer)," kata produser Edhi Niam Wakhidi kepada wartawan, usai acara syukuran produksi sinetron itu di Cisarua, Bogor, Sabtu (3/5).
Hal tersebut terungkap dalam acara syukuran dihadiri sejumlah petinggi Polri termasuk Kadiv Humas Polri, Brigjen Pol Anton Bahrul Alam, Kapolda Sulsel Irjen Pol H Sisno Adiwinoto, yang juga adalah penggagas pembuatan sinetron SEBUAH KEJUJURAN.
Anton dalam sambutannya mengatakan Polri menilai positif pembuatan sinetron bertema kinerja polisi dan drama keluarga tersebut. "Jarang sekali ada yang mau mengangkat cerita tentang kepolisian," katanya.
Ia berharap, tujuan publikasi kinerja dan citra polisi melalui sinetron ini dapat memberikan gambaran yang lengkap dan utuh tentang kepolisian sebagai aparat penegak hukum, pelindung, pengaman dan pengayom masyarakat. "Sinetron ini tidak hanya mengungkapkan kerja polisi yang baik-baik saja tetapi juga yang buruk," katanya.
Menurut Anton, masyarakat selama ini hanya melihat banyak kasus hukum seperti pungli dan suap yang dilakukan atau melibatkan aparat didiamkan saja, tetapi sesungguhnya setiap pelanggaran yang dilakukan oleh polisi tetap diproses secara prosedur hukum.
Sejak reformasi, katanya, Polri terus melakukan perbaikan dalam pelayanannya, dan sekarang sudah mulai terlihat wajah polisi yang lebih ramah dan bersahabat.
Pasang Badan
Dibuat sebanyak 13 episode, sinetron ini digarap sutradara RDP Iskandar, dan menghadirkan bintang utama Adam Alatas dan Sarah Astriani.
Edhi mengatakan, sekalipun bersifat dokumenter, sinetron ini tetap mengedepankan drama keluarga dan roman. Untuk dua episode pertama, kisah roman yang dijual adalah penggambaran sosok Teguh (Adam Alatas) yang menempatkan kejujuran di atas segalanya.
"Dia jujur pada diri sendiri dan pada tugasnya, pun dalam hubungan asmaranya dengan dua orang gadis cantik, Ratih (Sarah Astriani) dan Wulan," katanya.
Menyinggung tentang wajah buruk kepolisian yang diangkat, sinetron ini tidak sungkan mengungkap praktek suap dan percaloan, terkait proses penerimaan calon taruna Akademi Polisi (Akpol).
"Yang tidak suka pasti ada, tapi soal itu Pak Sis pasang badan," kata Edhi.
Irjen Pol Sisno sendiri mengatakan, justru dari kisah ini mau diungkapkan kepada masyarakat luas bahwa praktek-praktek yang menyimpang itu memang fakta, tetapi Polri tidak tinggal diam. "Oknum yang kedapatan melakukan penyimpangan ini diproses hingga tuntas kok, tidak dibiarkan begitu saja seperti anggapan masyarakat selama ini," katanya.
Melawan Arus
Banyak pihak mengatakan bahwa tema dan cerita sinetron maupun film era sekarang ini umumnya percintaan dan perebutan harta, iri dengki dan sebagainya, kebanyakan isinya cuma pembodohan.
Sungguhpun demikian, hal itu ternyata merupakan tren yang disukai pemirsa televisi maupun penonton bioskop. "Kami sudah keluar masuk stasiun televisi, dan terakhir hanya Trans 7 yang bersedia menayangkan. Itu pun bukan di prime time," kata Edhi.
"SEBUAH KEJUJURAN ditayangkan pada pukul 10.00 WIB, di mana hampir semua anggota keluarga sedang beraktivitas di luar rumah.
Laku atau tidak, Mabes Polri dan Tridaya Film mengambil sikap pantang mundur, dan berharap rating tayangan ini nantinya cukup bagus.
Edhi mengatakan, meskipun melawan arus, pihaknya optimis, satu kelak sinetron ini bakal mendapat respon yang baik dan masuk waktu tayang utama (19.00-22.00 WIB). Dan bila sukses, Mabes Polri dan Tridaya Film bertekad untuk membuat produk lanjutan, bahkan versi layar lebarnya. (*/boo)