"Dengan asumsi konsumsi tiap orang adalah sebesar Rp100-200 ribu sehari maka total konsumsi narkoba di Jakarta bisa mencapai Rp15 miliar perhari," kata Pelaksana Harian BNP Jakarta, Sudirman, di Balaikota Jakarta, Selasa (6/5).
Sudirman juga menyebut, pihaknya sedang menyiapkan strategi terkait kawasan tertentu yang dikenal sebagai rawan peredaran narkoba, seperti di Kampung Ambon, Jakarta Barat, dan Berlan, Jakarta Timur.
"Strateginya tengah kita siapkan. Tapi, belum dapat dibeberkan," katanya.
Selain pengawasan dan rehabilitasi pemakai, Sudirman juga menyebut pihaknya akan melakukan kegiatan penanggulangan, yaitu pencegahan dan pemberdayaan masyarakat.
Hal tersebut harus dilakukan mengingat saat ini jumlah pecandu yang berhasil didata disebut Sudirman hanya merupakan puncak dari "gunung es".
"Kondisi yang terjadi saat ini merupakan fenomena gunung es, yaitu dari sepuluh pecandu, hanya satu orang yang datang untuk rehab," katanya.
Kondisi itu juga terjadi pada pengungkapan kasus narkoba yang diibaratkan, dari satu ton yang dapat diamankan, terdapat 10 ton yang tidak terdeteksi.
Salah satu cara menanggulangi narkoba, kata Sudirman, adalah dengan menekan suplai, antara lain dengan memutus mata rantai peredaran narkotika, seperti yang dilakukan saat ini, yaitu mencegah peredaran narkoba melalui perairan.
Bentuk pengawasan di perairan itu adalah dengan membentuk Satuan Tugas pengawasan pantai, pulau, laut, sungai, dan perairan. Satgas tersebut dibentuk dengan bekerjasama dengan Polisi Perairan, Angkutan Laut, dan Departemen Perhubungan. (kpl/rif)