< >

Presiden China Bertemu Empat Mantan PM Jepang

Jum'at, 09 Mei 2008 07:24
Kapanlagi.com - Kunjungan Presiden China Hu Jintao ke Jepang diwarnai pertemuan dengan empat mantan perdana menteri Jepang, yang mengharapkan China menyelesaikan sejumlah masalah peka yang dinilai mengganggu hubungan dwipihak selama ini.

Media massa Jepang di Tokyo pada Kamis (8/5) memberitakan pertemuan tersebut. Para mantan perdana menteri Jepang yang bertemu dengan Presiden Hu adalah Yasuhiro Nakasone, Toshiki Kaifu, Yoshiro Mori dan Shinzo Abe.

Mantan perdana menteri lain Jepang, yang dinilai bermasalah bagi China, Junichiro Koizumi, tidak terlihat dalam acara tersebut. Koizumi kerap mengunjungi kuil Yasukuni dan tindakan itu memicu rasa anti-Jepang di China.

Dalam pertemuan makan pagi di Hotel Tokyo itu, Presiden Hu mengemukakan keyakinannya bahwa kunjungannya tersebut mampu meningkatkan hubungan kedua negara itu. Hu juga menyatakan kerjasama dwipihak akan dapat didasari oleh rasa saling percaya mendalam dan rasa persahabatan lebih erat.

Pembicaraan di antara mereka menyangkut sejumlah masalah penting, yang dinilai mengganggu hubungan dwipihak, antara lain pengelolaan bersama ladang gas di Laut China Timur, makanan gyoza (pangsit China) beracun, serta kasus Tibet.

Shinzo Abe mengatakan sangat berharap Olimpiade Beijing juga menjadi ajang yang mampu meningkatkan keadaan hak asasi manusia di Tibet. Para mantan perdana menteri Jepang itu menghendaki China lebih mengedepankan dialog dalam meredam unjuk rasa di Tibet.

Untuk pengelolaan ladang gas bersama dinilai membutuhkan keputusan politik agar secepatnya menyelesaikan persoalan mengenai batas wilayah, yang selama ini masih menjadi pertentangan di antara kedua negara itu.

Dalam persoalan gyoza, China dan Jepang, seperti yang disampaikan Hu, kedua negara harus meningkatkan kerjasama penyelidikan guna menuntaskan perkara yang sama-sama tidak diinginkan tersebut.

Sementara itu, Nakasone mengatakan, pernyataan bersama Presiden Hu dan Perdana Menteri Yasuo Fukuda pada Rabu (8/5) akan menjadi penanda penting dalam babak baru sejarah China-Jepang, terutama dalam menciptakan masa depan lebih baik. (kpl/rif)