Petugas, sudah empat hari mencurigai muatan dalam KM Indah Mulia, namun baru menggeledah setelah dibongkar pada Sabtu sore, kata Cipto, salah seorang anggota tim P2 Ditjen BC, Minggu dini hari.
Penggeledahan dilakukan tim dari pusat itu tanpa melibatkan aparat BC Tanjungpinang yang bertugas di pelabuhan bongkar muat km 6 Tanjungpinang.
Sekitar enam petugas BC Tanjungpinang yang semula berada di sekitar KM Indah Mulia terkejut dengan kedatangan petugas pusat. Pelan-pelan mereka menghilang dari pelabuhan.
"Kami mau pastikan dulu. Jika sudah positif, baru kami koordinasi dengan petugas daerah," katanya.
Awalnya petugas mencurigai KM Indah Mulia milik Aceng, pengusaha yang cukup ternama di Tanjungpinang, berisi beras miras dan telepon genggam yang berasal dari Singapura.
Namun setelah dilakukan penggeledahan, kapal itu tidak hanya memuat miras, melainkan juga beras dan gula yang disembunyikan di palka kapal. Sedangkan telepon genggam tidak ditemukan.
Ribuan karton miras berhasil diamankan petugas. "Ribuan karung beras dan gula juga disita. Jumlah pastinya belum tahu," kata Cipto.
Menghalang-Halangi
Tim P2 Ditjen BC mengaku tidak mudah membongkar aksi penyelundupan tersebut, karena pemilik kapal berupaya menghalang-halangi tugas mereka.
Pemilik kapal, Aceng juga berupaya melobi petugas tersebut, namun gagal. "Kasus ini diproses secara hukum," tegas Cipto.
Sebelum kapal digeledah secara keseluruhan, Cipto minta pengakuan dari Aceng apa isi dalam palka kapal. "Padahal kami sudah lihat dari lubang kecil ada ribuan karton miras," katanya.
Aceng akhirnya mengaku, ia bawa miras yang akan diedarkan di pasaran Tanjungpinang. Setelah dilakukan penggeledahan secara menyeluruh, baru ditemukan adanya beras dan gula.
Penggeledahan seluruh isi kapal dengan bantuan buruh pelabuhan yang sebelumnya dikhawatirkan tidak menerima kehadiran tim P2 Bea dan Cukai pusat. "Awalnya kami khawatir buruh diadu domba, makanya kami minta bantuan wartawan. Tapi ternyata aman," katanya
Aceng tidak hanya melobi petugas. Ia juga mendekati Tujuh wartawan yang meliput peristiwa itu. Ia berusaha menyuap wartawan agar tidak memberitakan peristiwa itu. "Tolonglah Pak. Kita berteman saja. Bapak bantu saya, nanti saya bantu," kata Aceng melobi wartawan.
Sebelum dilakukan penggeledahan, ia bahkan berupaya menutupi barang-barang tidak resmi yang dibawanya. "Barang yang saya bawa itu resmi," ujarnya berdalih.
Upaya Aceng gagal, karena ditolak wartawan. "Kalau Pak Aceng melakukan kegiatan resmi, kenapa harus takut? Kami mendukung usaha resmi," kata salah seorang wartawan sambil tersenyum tipis.
Para wartawan minta Aceng tidak menghalang-halangi tugas mereka. Aceng dengan wajah memerah kemudian meninggalkan wartawan, sambil berkata, "Saya selalu berhubungan dengan wartawan, tapi tidak pernah jumpa yang seperti ini. (*/boo)