< >

PBB Peringatkan Myanmar Soal Bahaya Menghalangi Bantuan

Selasa, 13 Mei 2008 07:36
Kapanlagi.com - Sekjen PBB Ban Ki-moon mendesak pemerintah Myanmar untuk membolehkan pekerja bantuan dan pertolongan masuk ke negara yang dilanda-badai itu "tanpa rintangan", dengan mengatakan kelangsungan hidup rakyat mereka dipertaruhkan.

Juru bicara Ban Marie Okabe mengatakan pada wartawan di markas besar PBB, sekjen yang sedang di Atlanta untuk satu kunjungan, telah "memperingatkan bahwa tiadanya tindakan dapat mematikan".

"Kita jangan kehilangan waktu lagi," kata Ban pada wartawan di Atlanta. "Banyak orang telah meninggal dan jika kita tidak melakukan tindakan yang lebih baik pada waktu ini atas dasar mendesak mungkin akan ada banyak lagi orang yang akan meninggal."

Ban telah berupaya untuk menghubungi jenderal senior Myanmar, Than Shwe, untuk meyakinkannya agar melepaskan tuntutan permintaan visa pada pekerja bantuan. Namun upayanya untuk menghubungi junta yang suka mengisolasi diri itu tidak berhasil.

"Saya telah berusaha untuk berbicara secara langsung dengan pemimpin Myanmar," katanya. "Sayang saya tidak dapat menghubunginya. Saya masih akan berusaha untuk berbicara dengan mereka dan juga dengan pemimpin di negara tetangga."

Ada frustrasi internasional yang meningkat dengan penundaan oleh Myanmar untuk membolehkan bantuan dalam hampir satu pekan setelah badai Nargis melanda negara Asia Tenggara itu, menewaskan ribuan orang dan berdampak berat pada sekitar 1,5 juta orang.

Ban mengatakan, pemerintah Myanmar tidak melakukan sesuatu karena mengkhawatirkan para pejabat kemanusiaan PBB.

"Saya akan menjamin bahwa ...pekerja bantuan PBB tidak akan terlibat dalam debat politik," katanya. "Kami sekarang berbicara mengenai menyelamatkan hidup."

Seorang juru bicara Program Pangan Dunia PBB (WFP) mengatakan di New York bahwa badan itu telah minta 16 visa bagi pekerja bantuan sejak badai tersebut dan hanya satu dari mereka yang diberi. Ia mengatakan, kedutaan besar Myanmar di Bangkok tidak tutup hingga Senin (12/5).

Kekecewaan Ban yang meningkat pada junta militer itu sangat jelas.

"Keprihatinan saya pada waktu ini adalah proses pemberian visa yang sangat lambat," kata Ban. "Karena itu saya akan benar-benar mendesak lagi pada pemerintah Myanmar supaya mereka mempercepat pengeluaran visa dan juga cukai dan izin."

Okabe mengatakan, pekerja bantuan masih belum mencapai beberapa daerah yang dilanda-berat, dan menambahkan "PBB telah memiliki personil di tempat itu tapi kemampuan mereka merentang terbatas."

Okabe mengatakan, WFP telah mengirim dua penerbangan bantuan pada Sabtu (10/5), sementara pembicaraan berlanjut dengan junta militer mengenai bagaimana bantuan akan didistribusikan.

WFP mengatakan sebelumnya, Jumat (9/5), mereka telah menunda penerbangan setelah pemerintah menyita pasokan pangan badan itu yang dikirim ke bandara Yangon.

Jumat malam PBB melancarkan permintaan cepat untuk mengumpulkan sedikitnya US$115 juta guna membantu korban badai. (kpl/rif)