Semburan ini tercatat merupakan semburan ke-91 yang menurut warga muncul sekitar dini hari dengan tinggi semburan 12-15 meter.
Diperkirakan, semburan tersebut muncul karena Sering Barat banyak terdapat sumur bor berkedalaman 40 meter, sehingga berpotensi mengeluarkan semburan-semburan baru.
Humas Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Ahmad Zulkarnain di lokasi kejadian, Selasa (13/5), mengatakan, penyebab lain munculnya bubble, yakni dari arah timur mulai pusat semburan hingga tanggul penahan lumpur bebannya terus bertambah, sehingga rekahan tanah terus menjalar.
"Kami mengimbau agar sumur-sumur warga yang tidak dimanfaatkan lagi bisa ditutup, sehingga tidak muncul semburan baru," katanya.
Semburan pada lokasi ini segera dijauhkan dari aktivitas warga, sebab gas beracunnya cukup tinggi dan mengganggu warga.
Bubble kali ini terus dipantau dan akan dibuatkan rekomendasi untuk titik-titik tertentu yang harus dijauhi, karena kadar kandungan gas dan volume semburan airnya.
Anggota tim Fergaco, Yogi, mengatakan, gas yang keluar bersamaan dengan semburan ini masih nisbi aman.
Hasil pengukuran terakhir dari radius tiga meter kadar gas HC hanya terdeteksi lima persen. Angka itu dinilai masih aman, sebab semburan masuk kategori tidak aman, jika sudah mencapai 180%, karena mengganggu kesehatan dan mudah terbakar.
Menurut Zulkarnain, kemunculan semburan ini kian menambah panjang daftar semburan yang muncul di kawasan Siring Barat.
Sampai saat ini, tercatat sebanyak 91 semburan yang muncul di kawasan yang berada di sebelah barat semburan lumpur panas Lapindo ini. (kpl/rif)