Abdullah Hamzah, salah seorang warga setempat menjelaskan, angin kencang yang disertai hujan menyebabkan keresahan warga, apalagi setelah menyaksikan atap rumah copot akibat peristiwa pada Senin (12/5) sekitar pukul 18.30 WIB itu.
"Masyarakat sangat ketakutan setelah menyaksikan atap rumah yang belum selesai dibangun itu copot dan terseret hingga 200 meter saat angin kencang yang disertai hujan tersebut," katanya.
Ia menyebutkan, para pemilik rumah bantuan yang dibangun Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias itu berharap atap rumah yang copot segera dibangun kembali.
Konstruksi bangunan rumah untuk korban tsunami itu baru selesai sekitar 70% yang seharusnya sudah bisa ditempati.
"Bangunan rumah tersebut sudah tiga bulan terlantar, karena ditinggalkan rekanan," kata dia.
Rumah-rumah permanen type-36 itu dinilai konstruksinya dibangun tidak sesuai dengan kondisi alam.
"Desa kami sering dilanda angin kencang, tapi bangunan tersebut tidak sesuai dengan kondisi alam, sehingga kami khawatir untuk menempatinya," tambah warga lainnya.
Seharusnya, BRR NAD-Nias segera menyelesaikan bantuan kepada korban tsunami.
"Kami pernah ditawarkan untuk melanjutkan sendiri pembangunan rumah yang diterlantarkan rekanan, tapi sampai sekarang belum ada realisasinya dari BRR NAD-Nias," ujar Abdullah. (kpl/rif)

Gary Barlow
Mark Owen
Howard Donald
Robbie Williams
Jason Orange


