"Kita sedang meminta agar tekstil yang Bea Masuknya (BM) antara 3,5-17,5% dimasukkan dalam daftar produk yang tarifnya diturunkan," kata Direktur Kerjasama Regional, Ditjen Kerjasama Perdagangan Internasional, Departemen Perdagangan, Iman Pambagyo di Jakarta, Selasa (13/5).
Selama ini, baru China yang mendapatkan fasilitas tarif nol persen untuk ekspor TPT ke dua negara itu.
Iman menilai, Indonesia juga memiliki peluang untuk meningkatkan ekspor TPT ke Australia dan New Zealand.
"Tapi kita harus fokus pada produk unggulan kita yang mana, tidak semua produk TPT kita minta nol persen BMnya. Kita sedang menyusun prioritas produk mana yang akan diusulkan untuk di-nol persen-kan," ujarnya.
Untuk itu, pemerintah akan meminta masukan dari industri TPT terkait produk apa saja yang berpeluang memenuhi pasar ekspor Australia dan New Zealand.
Zero to zero
Selain TPT, lanjut Iman, Indonesia juga mengusulkan pembukaan pasar otomotif dan alas kaki dengan konsep "zero to zero" (dua pihak sama-sama menurunkan BM produk hingga nol persen).
"Pasar Australia dan New Zealand untuk tekstil, sepatu dan otomotif itu bagus. Kalau otomotif itu terutama untuk spare part-nya," ujar Iman.
Dalam bidang otomotif, tambah Iman, kedua belah pihak juga dapat bekerja sama dalam hal teknologi, mengingat Australia memiliki kemampuan yang lebih dibanding negara ASEAN.
Menurut Iman, industri alas kaki Indonesia dan Australia dapat saling melengkapi mengingat kedua pihak memiliki produk unggulan yang dibutuhkan masing-masing negara.
"Produk alas kaki Australia terbatas pada safety boot untuk di tambang, dan lain-lain bukan di casual footwear, sedangkan kita punya industri casual footwear,"ujarnya.
Sementara itu, Australia dan New Zealand meminta pembebasan BM untuk produk-produk peternakan yang menjadi unggulan mereka seperti daging dan susu.
"Sebenarnya, tarif kita hanya lima persen, sebenarnya tidak jauh (dari permintaan mereka).Tapi kita masih harus berkonsultasi dengan departemen terkait," ujar Iman.
Perundingan FTA ASEAN dengan Australia dan New Zealand (AANZ) selanjutnya akan digelar di Vietnam pada awal Juni ini.
Meski kedua pihak masih belum sepakat mengenai modalitas dalam negosiasi FTA, lanjut Iman, namun ia memperkirakan target kesepakatan FTA akan tercapai sesuai target, yaitu Agustus 2008.
Iman menjelaskan Australia dan New Zealand menginginkan sebanyak 96% pos tarif kedua pihak dibuka pasarnya (diturunkan tarif BMnya), namun negara-negara anggota ASEAN menginginkan besaran yang lebih rendah dari usulan itu.
"Kita sedang usahakan, mungkin tidak sampai 96%, tapi di atas 90%,"tambahnya.
Selama ini, menurut Iman, dalam berbagai perundingan FTA, batas jumlah pos tarif yang dinegosiasikan hanya 90% dan sisanya merupakan daftar sensitif yang tidak dibuka pasarnya. (kpl/rif)

Masayu Anastasya
Ratu Felisha
Andi Soraya
Lucky Resha
Fairuz A Rafiq


