"Saat ini ada 22 pengusaha asal Taiwan yang ingin investasi di bidang industri sepatu dan sudah meminta lahan 300 hektar untuk dibuat satu kawasan industri sepatu di Indonesia," kata Ketua Umum DPP Aprisindo Eddy Widjanarko seusai bertemu Wapres M Jusuf Kalla di Jakarta, Selasa (13/5).
Atas keinginan 22 pengusaha sepatu Taiwan tersebut, Aprisindo saat ini sedang mempersiapkan lahannya di Sukabumi, Jateng, dan Lamongan Jatim, serta Madura.
Namun, ketika ditanyakan berapa total investasi yang akan mereka tanamkan, Eddy belum bisa memberikan kepastian.
Eddy mengatakan, saat ini momen yang tepat untuk Indonesia, mengingat investasi di China dan Vietnam sudah mulai mahal. Dengan demikian, pilihan para pengusaha untuk melakukan relokasi beralih ke Indonesia, India atau Filipina.
Menyangkut rencana kenaikan harga BBM oleh pemerintah, Eddy mendesak pemerintah segera mempercepat, sehingga tidak menggantung seperti sekarang ini. Karena dengan ketidakpastian seperti yang terjadi saat ini, justru membuat kalangan industri sulit untuk bekerja.
Menurut Eddy, jika kenaikan harga BBM sekitar 30%, akan terjadi kenaikan harga sepatu sekitar tujuh persen. Namun Eddy menegaskan bahwa sepatu hasil Aprisindo adalah sepatu-sepatu yang diekspor, bukan yang dipasarkan dalam negeri.
Eddy menjelaskan bahwa total ekspor Aprisindo tahun 2007 sebesar US$1,675 miliar. Untuk tahun 2008 ini ditargetkan sebesar US$1,8 miliar, dan target tahun 2009 mencapai US$2 miliar.
Selama ini ekspor produk Aprisindo ke negara Amerika Serikat, Eropa dan Jepang. (kpl/rif)