"Kami menyerukan bagi segera dilakukan gencatan perang, penarikan mundur orang-orang bersenjata dari jalan-jalan, membongkar penghalang-penghalang jalan, dan membuka kembali Bandara Internasional Beirut," kata kelompok itu dalam pernyataan yang dikeluarkan di PBB.
"Kami menyerukan bagi segera diadakannya pemilihan presiden tanpa syarat apapun, pembentukan suatu pemerintah persatuan nasional, dan mengadakan pemilihan umum sesuai dengan undang-undang pemilu yang telah disepakati oleh semua pihak, sejalan dengan rencana Liga Arab," katanya.
Sahabat Lebanon adalah kelompok yang beranggotakan 12 negara Barat dan Arab, yakni Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Italia, Jerman, Spanyol, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Mesir, Jordania, Kuwait dan Qatar, di samping PBB, Liga Arab dan Dewan Uni Eropa.
"Saya masih sangat khawatir terhadap situasi di Lebanon, yang mengancam stabilitas negara serta kawasan," kata kelompok itu dalam pernyataan persnya.
"Kami menyatakan dukungan kuat kami terhadap lembaga-lembaga konstitusional Lebanon, khususnya pemerintah dan Pasukan Angkatan Bersenjata Lebanon. Kami menegaskan kembali dukungan kuat kami untuk kedaulatan, kebebasan politik, stabilitas dan negara persatuan Lebanon," katanya.
Dewan Keamanan PBB Senin (12/5) mengadakan pembicaraan-pembicaraan tak resmi mengenai Lebanon, kata para diplomat. Dutabesar AS Zalmy Khalilzad juga menyerukan bagi segera digelarnya pembicaraan-pembicaraan resmi, untuk dilakukan secepat mungkin.
"Kami percaya di sana akan ada aksi di dalam Dewan Keamanan, mengenai situasi di Lebanon," kata Khalilzad setelah pertemuan.
Pertempuran sengit meledak di utara London Senin (12/5), yang kemudian diliputi ketegangan-ketegangan setelah beberapa hari yang menelan banyak korban dalam bentrokan antar kelompok, yang menjerumuskan negara ke dalam perang sipil secara menyeluruh.
Sedikitnya, seorang lelaki tewas dalam bentrokan antara para pendukung pemerintah yang disokong Barat dan kelompok militan yang setia kepada oposisi Syi`ah yang dipimpin Hizbullah di kota pelabuhan Tripoli, kata seorang pejabat keamanan.
Ketegangan politik Lebanon, yang meletus pada November 2006 pada saat enam menteri pro Suriah dipecat, menjadikan negara tanpa presiden sejak November lampau, ketika masa kepemimpinan presiden yang didukung Damaskus, Emile Lahoud, berakhir. (kpl/rif)