< >

China Bangun Pangkalan AL Baru, AS Terancam

Rabu, 14 Mei 2008 07:39
Kapanlagi.com - Pangkalan baru kapal selam nuklir China dekat jalur laut penting di Asia Tenggara menimbulkan kekhawatiran AS, dengan para ahli menyerukan dukungan aliansi di wilayah itu untuk mengawasi kekuatan militer Beijing yang meningkat.

Keberadaan pangkalan di ujung selatan Pulau Hainan itu ditegaskan untuk pertama kali oleh citra-citra satelit resolusi tinggi, kata media Jane`s Intelligence Review, sebuah berkala pertahanan terkenal, bulan ini.

Pangkalan itu dapat menampung sampai 20 kapal selam, termasuk tipe baru kapal selam rudal balistik nuklir, dan masa depan kelompok-kelompok tempur kapal induk China yang menimbulkan satu tantangan bagi dominasi militer AS yang lama di Asia.

China seharusnya tidak melakukan "Opsi-opsi militer tinggi" seperti itu, kata Laksamana Timothy Keating, komandan penting pasukan AS di Asia, dalam satu wawancara dengan radio AS Voice of America pekan lalu.

Ia menegaskan niat kuat Amerika untuk tidak meninggalkan peran militernya yang dominan di Pasifik dan mengemukakan kepada Beijing mereka akan menghadapi "kekalahan meyakinkan" jika menghadapi militer AS.

Kekhawatiran sebagian besar menyangkut keamanan Taiwan, Washington sering mempertanyakan ekspansi militer China di balik pertumbuhan ekonomi yang cepat.

Tetapi, para ahli militer Amerika yang menghadiri satu forum mengenai ekspansi angkatan laut China di Washington, Senin (12/5) mengatakan, pangkalan kapal selam itu menekankan kepentingan dalam memperhitungkan kekuatan di luar Selat Taiwan.

"Yang paling penting menyangkut pembangunan di Hainan itu adalah bahwa jika anda melihat peta itu, sebenarnya China dapat melakukan di manapun kecuali di selatan," kata Arthur Waldron, seorang ahli di Universitas Pennsylvania, mengacu pada Laut China Selatan dan jalur-jalur pelayaran penting, termasuk Selat Malaka yang terletak antara Indonesia, Malaysia dan Singapura.

"Fasilitas Hainan ini akan tetap menimbulkan persoalan-persoalan dalam pikiran semua negara tetangga, karena ini adalah satu fasilitas yang tetap dan tidak dapat dipindahkan," kata Waldron .

Ia mengatakan, Washington harus memperkuat aliansinya di Asia untuk mengawasi peralatan militer China dan meningkat kemampuan kerjasama di kalangan sekutu-sekutu seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Filipina dan Singapura, serta Indonesia dan Malaysia.

James Lyons, mantan komandan Armada Pasifik AS, mengatakan, AS perlu menjalin kembali hubungan militer tingkat tinggi dengan Filipina sebagai bagian dari usaha-usaha untuk meningkatkan tindakan pencegahan AS sehubungan dengan ekspansi angkatan laut China.

Ia mengatakan "taktik-taktik operasional" yang digunakan terhadap bekas Uni Sovyet selama Perang Dingin harus diterapkan terhadap China.

Ia menyarankan AS menyewakan satu skuadron pesawat tempur F-16 dan kapal-kapal angkatan laut kepada Filipina, seiring Washington pernah memiliki pangkalan-pangkalan angkatan laut dan udara, sebagai bagian dari strategi pencegahan itu.

Fasilitas Hainan itu, katanya, tepat pada waktunya menggantikan pangkalan kapal selam berpeluru rudal balistik nuklir pertama Beijing di Teluk Bohai utara negara itu, yang tampaknya terlalu dangkal untuk mendukung patroli-patroli pencegahan nuklir.

China tidak akan mengizinkan angkatan laut Amerika memasuki wilayah udara dan perairannya di sekitar pangkalan Hainan tidak dapat dibantah, kata Richard Fisher, seorang hali dalam masalah-masalah China di International Assessment and Strategy Center, satu lembaga pemikir. (kpl/rif)