
"Tapi kemudian ada produser yang menawari untuk dijadikan album dan dibuat komersial," tutur Kelik saat dijumpai usai tampil di Jogja TV, bersama Endah Saraswati calon istrinya, kemarin (Rabu, 14/5).
Dalam album itu berisi sepuluh lagu campursari, delapan di antaranya ditulis sendiri liriknya oleh Kelik. Lirik-lirik lagu yang diciptakan Kelik lebih banyak bernuansa humor, dan juga berbalut kritik sosial. Salah satu judul lagunya Malioboro, misalnya melukiskan fakta banyaknya gelandangan dan pencopet yang ada di Kawasan Wisata Malioboro Yogyakarta. "Saya ingin menyadarkan publik untuk peka terhadap keadaan," kata pria kelahiran 14 Agustus 1967 ini.
Pria bernama lengkap Raden Kelik Sumaryoto itu menceritakan album perdananya. Kelik mengatakan sebagian besar isinya mengandung unsur plesetan, seperti judul albumnya Campursari Plesetan. Selain ingin melestarikan musik campursari yang memang sudah sangat kental dengan Jogja, melalui album ini Kelik juga ingin mensosialisasikan dan menyebarkan virus plesetan dalam dunia humor Indonesia.
Meskipun menurutnya campursari berasal dari Jawa, tapi tak menutup kemungkinan orang dari luar Jawa menggemari musik campursari. "Plesetan merupakan humor cerdas yang mampu membuat orang berpikir," ujarnya.
Bagi Kelik setiap kata memang bisa mendapat unsur plesetan. Bagi Kelik itu sudah menjadi kebiasaan, berpikir untuk menjadikan satu kata memiliki makna plesetan.
"Saya juga ingin menjaga ciri kejogjaan saya itu dengan plesetan. Dan harus diakui kalau plesetan itu telah menjadi ikon Jogja yang influen-nya sangat luar biasa di daerah lain," ujarnya. (kpl/tia)
Lihat Profil: Kelik