
"Nantinya martabak itu dijual secara door to door dengan gerobak khusus. Cara seperti ini dapat dilakukan mereka yang masih belum punya pekerjaan dan mau berusaha," terangnya tentang strategi pemasaran.
Lebih lanjut dikatakan, usaha yang tengah dirintis itu ternyata tak sendiri. Agus menggandeng beberapa teman untuk mewujudkan bisnis martabat bernama "Martabak Gila" ini. "Tadinya datang dari ibu Latizah. Dia yang membuat martabak dengan isi tahu. Lalu saya iseng bilang bagaimana kalau isi martabaknya diganti dengan seafood. Eh, ternyata setelah dicoba rasanya enak," lanjutnya lagi.
Mengenai nama yang terkesan nyeleneh, ia punya alasan sendiri. Agus menganggap kata tersebut telah menjadi trademerk dirinya selama ini. "Slogan gila memang sudah melekat pada saya. Ya, seperti slogan radio saya (RAD), nggak gila nggak ngetop!" jelasnya lalu tersenyum.
Bahkan rencananya Agus bersama Latizah, Sherly Septiyani, Risnawati dan Om Joe tersebut bakal mengembangkan bisnis ini ke arah franchise dan dikembangkan berantai dengan cara Indonesia.
"Kenapa harus mengadopsi perusahaan dari luar negeri kalau kita bisa memulainya sendiri? Sebenarnya banyak sekali aneka ragam makanan nusantara, bahkan dapat juga kita membuat diversifikasi produk dari makanan-makanan khas daerah untuk dibuat franchise."
"Jadi kita tidak perlu ikut-ikutan franchise dari produk luar negeri, dan kita harus berani memulai untuk lebih mengembangkan itu. Saya optimis bisnis yang dibangun ini akan berkembang besar dan diterima masyarakat," urai penyuka warna hitam ini panjang lebar. (kpl/opa)
Lihat Profil: Agus Dhukun