"Sejauh yang saya lihat Taufik Hidayat merupakan pemain bagus yang masih bisa dipertahankan untuk satu dua tahun kedepan, namun PBSI perlu melakukan pendekatan kepada dirinya sebagai dukungan terhadapnya," kata Icuk yang juga staf ahli Menegpora ini di Istora Senayan Jakarta, Sabtu (17/5).
Menurutnya, Taufik Hidayat bisa dijadikan inspirator bagi pemain yang di bawahnya namun PBSI juga perlu membina aset lain yang ada di tataran lapis bawahnya.
"Taufik dan pemain muda lainnya itu merupakan aset, dan janganlah PBSI justru mematikan kesempatan pemain muda lainnya dengan penerapan sistem pembinaan yang kurang kondusif," kata ayah dari pemain muda Indonesia Tommy Sugiarto yang juga anggota tim Piala Thomas Indonesia tahun ini.
Icuk sempat mengkirik tentang kesalahan strategi yang diterapkan PBSI pada ajang Piala Thomas dan Uber tahun ini.
Dikatakannya, tim Piala Thomas terlalu memforsir pemain sehingga pemain mengalami penurunan stamina bahkan mengalami cedera sehingga berakibat gagal melangkah ke final seperti yang dialami tim Thomas Indonesia pada semifinal.
Menurutnya, seharusnya tim tidak perlu menurunkan pemain inti saat berhadapan dengan tim-tim lemah pada babak penyisihan grup, biarlah pemain muda lainnya mendapat kesempatan untuk turun bertanding.
"Kalau hanya melawan Jepang atau Jerman, tidak perlu tim mengeluarkan `rudal` untuk mematikan yang lemah," kata Icuk sambil mengatakan bahwa dirinya ini bicara bukan karena dirinya adalah ayah dari salah seorang anggota tim Piala Thomas Indonesia itu.
Dikatakannya, pemain seperti Taufik atau Sony Dwi Kuncoro tidak perlu diforsir untuk main terus menerus yang bisa mengakibatkan stamina mereka merosot.
"Yang saya dengar Sony pun saat semifinal itu dalam kondisi pahanya cedera, dan Taufik juga tampak tidak fit, itulah kalau pemain terlalu diforsir, seharusnya mereka diistirahatkan ketika melawan tim-tim lemah sebelumnya," katanya. (kpl/dar)