Menurut dia, perubahan dan perbaikan bagi bangsa dan negara berjalan lamban, penuh konflik dan ketidakpercayaan karena keakuan, kekamian lebih dominan daripada keakuan untuk memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara.
"Kita juga sadar bahwa untuk memberikan kontribusi kita perlu bersama sebagai bangsa, sebagai salah satu bentuk kontribusi masyarakat etnik untuk bersama sebagai bagian dari suatu bangsa.
Kita juga sadar bahwa negara kita merupakan negara maritim dan semua berharap Bhinneka Tunggal Ika tidak sekedar menjadi simbol negara, tapi juga menjadi strategi integrasi nasional, di mana semua etnik yang menyatakan diri bersatu untuk merdeka bisa memberikan kontribusi untuk kekitaan sebagai bangsa," katanya.
Ia menambahkan bangsa Indonesia juga harus bicara masalah pluralitas dan multikultur dengan harapan semua orang dapat menghargai pluralitas dan multikultur, sehingga mestinya tidak ada lagi orang yang bicara mengenai Indonesia barat dan Indonesia timur.
"Jika bicara presiden Jawa dan nonJawa tidak ada relevansinya lagi. Kita harus bicara pluralitas dan multikultur sebagai dasar berpikir, berperilaku dan berbuat pada sesama anak bangsa karena Bhinneka Tunggal Ika tidak sekedar simbol negara tapi diaplikasikan dalam konteks strategi integrasi bangsa," katanya.
Deklarasi Kebangkitan Nasional Abad II diikuti 100 pemuda dari 33 provinsi di Indonesia. Deklarasi tersebut dibacakan oleh Ketua Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiwa Daerah (IKPMD) Indonesia-Yogyakarta, Mahadi Napsa Prasetyawan. (kpl/dar)